Donat Penyelamat: Cerita Anti Mengubah Duka Menjadi Daya Juang

  • Sih Budi Daryanto
  • Dec 04, 2025
Features

Donat Penyelamat: Cerita Anti Mengubah Duka Menjadi Daya Juang

 

Lima tahun lalu, Anti harus berdiri sendiri setelah suaminya wafat. Dua anak membutuhkannya di rumah, sementara dapur tetap harus mengepul. Dari titik itulah ia memilih jalan yang paling mungkin ia tempuh tanpa meninggalkan anak-anak: membuat kue, hobi yang diam-diam menjadi penopang hidupnya.

Awalnya tidak mudah. Donat buatannya kurang diminati, banyak yang kembali tak laku dari toko-toko dan kios pasar. Ditemui di rumahnya di Dusun Plotengan, Kalurahan Pondokrejo, tanggal 2/12/2025 yang lalu, Anti bercerita, “Donat saya tidak laku dan saya bagi ke tetangga,” kenangnya, tersenyum tipis mengingat masa pahit-getir itu. Namun Anti tidak menyerah. Ia bereksperimen dari satu resep ke resep lain hingga menemukan formula yang benar-benar disukai konsumen yang padat namun tetap lembut.

Kini, donat berlabel “An Snack & Cakery” selalu habis. Setiap hari ia memproduksi hingga 150 donat, itu pun batas maksimal karena alatnya masih sederhana. Ia bermimpi memiliki oven besar dan peralatan lengkap agar volume produksi bisa meningkat. Jika ada pesanan lebih besar dari biasanya, Anti menggandeng tetangga untuk membantu.

Ritmenya dimulai jauh sebelum fajar. “Untuk mengejar pelanggan yang membuka dagangan pagi, saya mulai masak jam 02.30,” tuturnya. Pemasaran ia lakukan dengan cara sederhana namun efektif: dari mulut ke mulut, grup WhatsApp, dan TikTok.

Bagi Anti, membuat kue bukan sekadar keterampilan teknis. Ada hati di dalamnya. “Membuat kue itu melibatkan emosi. Harus disertai cinta dan doa. Kalau hati sedang tidak stabil, hasilnya pasti gagal,” ujarnya menutup perbincangan.

Dari dapur kecilnya, Anti membuktikan bahwa ketekunan dapat mengubah duka menjadi daya juang, dan sepotong donat bisa menjadi harapan yang terus mengembang.

(Sadhono Hadi, KIM Senyum Tempel)