Menjemput Sehat dari Akar Rumput: Empat Desa di Sleman Perkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

  • Sih Budi Daryanto
  • May 25, 2026
Kesehatan

SLEMAN — Ketahanan kesehatan nasional sejatinya dibangun dari kesadaran masyarakat di tingkat desa. Di tengah meningkatnya ancaman Penyakit Tidak Menular (PTM) serta tantangan pemenuhan gizi anak, pendekatan berbasis komunitas dinilai menjadi langkah penting untuk memutus persoalan kesehatan dari hulunya.

Kesadaran itu menjadi dasar digelarnya Pertemuan Pra-Survei Mawas Diri (SMD) di Kalurahan Margorejo, Senin (25/5/2026), yang diprakarsai UPT Puskesmas Tempel 1. Forum lintas sektor tersebut mempertemukan tenaga kesehatan, pemerintah kalurahan, serta kader masyarakat dari empat wilayah, yakni Margorejo, Mororejo, Merdikorejo, dan Lumbungrejo.

Pertemuan tersebut membahas hasil evaluasi berbasis komunitas SMD-MMD 2025 yang memotret persoalan kesehatan masyarakat secara lebih menyeluruh, mulai dari pola hidup bersih dan sehat (PHBS), gizi keluarga, hingga pengelolaan lingkungan rumah tangga.

“Menyelesaikan masalah kesehatan dasar di tingkat akar rumput tidak bisa lagi menggunakan pendekatan seragam. Setiap wilayah memiliki dinamika dan hambatan yang berbeda. Karena itu, intervensi harus berbasis data lapangan, bukan asumsi administratif,” ujar Drg. Yulin Wulandari dari Puskesmas Tempel 1.

Data lapangan menunjukkan setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda. Di Mororejo, isu utama masih berkaitan dengan optimalisasi ASI eksklusif dan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI), yang berkaitan langsung dengan upaya pencegahan stunting.

Sementara itu, Merdikorejo dan Lumbungrejo menghadapi tingginya kasus PTM seperti hipertensi dan diabetes mellitus akibat rendahnya aktivitas fisik serta kurangnya kepatuhan pengobatan. Di sisi lain, kebiasaan membakar sampah dan paparan asap rokok di dalam rumah masih menjadi persoalan umum yang ditemukan hampir di seluruh wilayah.

Melihat kondisi tersebut, Puskesmas Tempel 1 menekankan pentingnya transformasi pendekatan kesehatan dari yang bersifat kuratif menuju preventif dan promotif. Masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai penerima layanan semata, tetapi sebagai penggerak perubahan.

“Kita menghadapi beban ganda. Stunting harus ditekan, sementara PTM terus meningkat akibat gaya hidup sedentari. Karena itu, intervensi pada remaja putri dan ibu hamil menjadi investasi jangka panjang,” kata Praktisi Kesehatan Komunitas, Safira Fida Anisa.

Salah satu strategi yang disiapkan adalah penguatan posyandu remaja integratif, edukasi gizi, hingga pemberian Tablet Tambah Darah untuk mencegah anemia pada remaja putri sebagai langkah memutus rantai stunting sejak dini.

Aspek kesehatan lingkungan juga menjadi perhatian. Sanitarian Fuad Maskuri menilai kebiasaan membakar sampah plastik berisiko memicu gangguan pernapasan dan efek karsinogenik jangka panjang.

“Kesehatan lingkungan dan kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan. Edukasi PHBS harus berjalan bersamaan dengan penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat,” ujarnya.

Melalui forum Pra-SMD ini, empat kalurahan sepakat memperkuat kolaborasi, berbagi praktik terbaik, serta mengurangi ego sektoral wilayah. Sinergi antara Puskesmas, pemerintah desa, dan kader masyarakat diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pembangunan kesehatan nasional yang dimulai dari desa.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)