SLEMAN — Penguatan literasi digital berbasis masyarakat dinilai menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya penyebaran hoaks di media sosial. Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sembada Kabupaten Sleman yang digelar di Griya Dhahar Taman Merdiko, Kapanewon Tempel, Senin (25/5/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman Muhammad Arif Rahman beserta jajaran, perwakilan Kapanewon Tempel, Ketua Forum KIM Sembada Kabupaten Sleman Adnan Iman Nurtjahjo Amir, pengurus KIM dari berbagai kapanewon di Sleman, serta tuan rumah KIM Senyum Tempel bersama para pengurusnya.
Forum itu menjadi ajang konsolidasi sekaligus ruang bertukar gagasan terkait penguatan peran KIM sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Selain membahas evaluasi organisasi, peserta juga mendiskusikan strategi menghadapi tantangan informasi digital yang semakin kompleks.
Dalam sambutannya, Muhammad Arif Rahman menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas pengurus KIM agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi yang terus berubah.
“Kami sedang menyiapkan program peningkatan kapasitas bagi pengurus KIM yang sudah terdaftar di platform kim.id milik Kominfo. Program ini direncanakan berlangsung pada Juni atau Juli 2026 sebagai langkah penguatan kompetensi digital dan pengelolaan informasi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Arif, tantangan terbesar saat ini bukan hanya banyaknya arus informasi, tetapi bagaimana masyarakat mampu memilah informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, KIM dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi digital yang sehat.
Hal senada disampaikan Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Tempel Aris Wibawa yang hadir mewakili Panewu Tempel. Ia berharap informasi yang diproduksi KIM dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah melalui berbagai kanal komunikasi yang dekat dengan warga, termasuk grup WhatsApp.
“Masyarakat tentu lebih percaya pada informasi yang disampaikan pihak-pihak kompeten, terutama melalui KIM dan Kominfo. Ini penting untuk mengurangi penyebaran informasi yang tidak jelas sumbernya,” kata Aris.
Sementara itu, Ketua Forum KIM Sembada Kabupaten Sleman Adnan Iman Nurtjahjo Amir menekankan pentingnya optimalisasi peran seluruh KIM di Sleman agar lebih aktif, inovatif, dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin memastikan seluruh KIM di Sleman bisa berjalan maksimal. Selain itu, Sleman juga sedang mempersiapkan diri menjadi tuan rumah pertemuan Forum KIM se-DIY. Ini momentum untuk menunjukkan bahwa KIM mampu menjadi kekuatan sosial dalam pengelolaan informasi publik,” ujarnya.
Adnan juga memaparkan perkembangan masing-masing bidang kepengurusan Forum KIM Sembada beserta berbagai kendala yang dihadapi dan solusi yang sedang dirumuskan bersama.
Tuan rumah kegiatan, Ketua KIM Senyum Tempel Muryana, menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh peserta dan berharap pertemuan tersebut menjadi titik awal lahirnya semangat baru dalam penguatan gerakan literasi informasi masyarakat.
“Semoga dari Tempel lahir energi positif untuk membawa Sleman semakin maju, khususnya dalam menghadapi penyebaran hoaks. KIM harus hadir sebagai penjernih informasi di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, KIM Senyum Tempel juga meluncurkan Buletin KIM Senyum Tempel Edisi Mei 2026 bertajuk Buletin UMKM Kita sebagai media promosi potensi usaha masyarakat sekaligus sarana informasi komunitas. Muryana menambahkan, KIM Senyum Tempel selama ini telah menjalankan pertemuan rutin setiap tiga bulan sekali untuk menjaga kesinambungan koordinasi dan program kerja.
Diskusi dalam forum berlangsung dinamis. Perwakilan KIM Mlati, Y. Edi Setyoharjo, mengungkapkan kendala dalam mengaktifkan kembali kepengurusan di wilayahnya karena sulit mengumpulkan anggota secara rutin. Ia berharap Karang Taruna dapat lebih dilibatkan dalam kegiatan KIM.
Pandangan serupa disampaikan Agus Widayadi dari KIM Sleman terkait vakumnya aktivitas organisasi di wilayahnya akibat berbagai kendala internal. Sementara Suripto dari KIM Ngaglik mengusulkan agar koperasi KIM Sembada yang sempat vakum dapat dihidupkan kembali sebagai penunjang kegiatan organisasi.
Dari KIM Tempel, Sadhono Hadi mengusulkan pendekatan kreatif untuk menarik minat generasi muda melalui lomba penulisan berita bagi pelajar dengan melibatkan praktisi jurnalistik, Forum KIM Sembada, dan Diskominfo Sleman sebagai dewan juri.
Namun Athiful dari KIM Depok menilai pendekatan terhadap generasi muda tidak cukup hanya mengajak mereka bergabung. Menurutnya, organisasi juga harus mampu menghadirkan suasana yang nyaman dan relevan dengan karakter generasi Z dan Y saat ini.
“KIM harus tampil lebih kekinian dan dekat dengan dunia anak muda. Kalau suasananya nyaman dan sesuai dengan karakter mereka, anak muda akan datang dengan sendirinya,” ujarnya.
Melalui forum tersebut, KIM diharapkan semakin mampu menjadi ruang kolaborasi masyarakat yang sehat, inklusif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan komunikasi di era digital.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)