Edukasi Keluarga Jadi Kunci Pencegahan Bullying di Masyarakat

  • Sih Budi Daryanto
  • Jan 30, 2026
Sosial Masyarakat

Edukasi Keluarga Jadi Kunci Pencegahan Bullying di Masyarakat

SLEMAN — Bullying masih menjadi persoalan yang kerap terjadi di berbagai ruang kehidupan, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun ruang digital. Tidak sedikit praktik bullying berlangsung tanpa disadari karena dianggap sebagai candaan, padahal dampaknya dapat melukai kondisi psikologis korban dan mengganggu rasa aman, terutama bagi perempuan dan anak.

Sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Tempel menggelar pertemuan rutin anggota yang dirangkai dengan sosialisasi anti bullying, pada Jumat, 30 Januari 2026, bertempat di Gedung Darul Ulum, Sanggrahan, Tempel. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus dan nggota ‘Aisyiyah cabang Tempel dan perwakilan dari aisiyah ranting sebagai bagian dari penguatan peran perempuan dalam membangun lingkungan sosial yang berkeadaban.

Materi sosialisasi disampaikan oleh Dr. Aroma Elmina Martha, S.H., M.H, dosen Universitas Islam Indonesia (UII). Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa bullying merupakan perilaku menyakiti yang dilakukan secara berulang dan disengaja, sehingga membuat korban merasa tertekan, takut, dan tidak berdaya.

Ia menegaskan bahwa bullying termasuk bentuk kekerasan, meskipun tidak semua kekerasan dapat dikategorikan sebagai bullying. “Semua bullying adalah kekerasan, tetapi tidak semua kekerasan adalah bullying,” ungkapnya.

Sebagai ilustrasi, tindakan membentak seseorang satu kali dapat dikategorikan sebagai kekerasan verbal, namun belum tentu bullying. Sebaliknya, perilaku mengejek, merendahkan, atau mengucilkan individu yang sama secara berulang, baik secara langsung maupun melalui media digital seperti grup percakapan, merupakan bentuk bullying yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Dr. Aroma Elmina Martha—yang akrab disapa Bu Arum—menyampaikan harapannya agar kegiatan edukasi semacam ini dapat menjadi upaya nyata dalam melindungi anak-anak dari berbagai bentuk bullying dan kekerasan, terutama yang berawal dari lingkungan terdekat dan ruang digital. Ia mengingatkan para orang tua untuk mewaspadai perubahan perilaku anak yang tidak wajar, sebagai salah satu tanda awal adanya permasalahan.

“Orang tua perlu peka, salah satunya dengan memantau penggunaan ponsel anak, mengedukasi agar tidak menerima pesan atau panggilan dari nomor yang tidak dikenal, serta membangun komunikasi yang terbuka dan hangat dengan anak,” ujarnya.

Selain itu, Bu Arum juga mendorong orang tua untuk membiasakan anak berangkat dan pulang sekolah bersama teman-temannya, sebagai langkah sederhana namun penting untuk meningkatkan rasa aman dan mencegah risiko terjadinya bullying maupun kekerasan.

Melalui kegiatan ini, ‘Aisyiyah menekankan pentingnya edukasi berbasis keluarga dan komunitas sebagai fondasi pencegahan bullying. Perempuan dipandang memiliki peran strategis sebagai pendidik pertama di lingkungan keluarga sekaligus agen perubahan di masyarakat. Edukasi yang berkelanjutan diharapkan mampu menumbuhkan empati, sikap saling menghargai, serta keberanian untuk mencegah dan menghentikan praktik bullying, demi terciptanya lingkungan yang aman, inklusif, dan berkeadilan. (RATNA ZULIASTUTI KIM SENYUM TEMPEL)