Forkopimkap Tempel Bahas Pendidikan, Stunting, Keamanan, dan Mitigasi Bencana dalam Rakor Akhir Tahun
SLEMAN — Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon (Forkopimkap) Tempel menggelar rapat koordinasi akhir tahun pada Kamis (11/12/2025) di Pendopo Kapanewon Tempel. Kegiatan ini dihadiri Panewu Tempel Dakiri S.Sos., M.Si., Kapolsek Tempel Gunawan Setyabudi SH MM, perwakilan Koramil Tempel Peltu Sumaryono, serta dua anggota DPRD Kabupaten Sleman, yakni Ketua Komisi D, M. Arif Priyo Susanto, S.Si., dan anggota DPRD Sleman, Wahyudi Kurniawan, S.IP.
Panewu Tempel Dakiri S.Sos., M.Si. dalam laporannya memaparkan realisasi anggaran Kapanewon Tempel yang telah mencapai hampir 97 persen sepanjang 2025. Ia menampilkan kaleidoskop kegiatan yang meliputi program pemerintahan, pembinaan masyarakat, pemberdayaan, serta peningkatan layanan publik di seluruh wilayah. Dakiri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh kalurahan atas capaian prestasi yang diraih dalam berbagai kompetisi serta inovasi pelayanan masyarakat. “Prestasi ini menunjukkan bahwa Tempel terus bergerak maju. Harapan kami, tahun depan capaian ini semakin meningkat dan merata,” ujarnya.
Ketua Komisi D DPRD Sleman, M. Arif Priyo Susanto, S.Si., menyoroti isu pendidikan terutama bagi keluarga penerima manfaat PKH. Ia menjelaskan keberadaan Sekolah Rakyat Purwomartani Kalasan, sekolah setingkat SMA yang dikelola Pemda DIY dan didanai Kementerian Sosial, serta menyediakan asrama gratis bagi anak keluarga tidak mampu. Arif juga memaparkan rencana pendirian sekolah rakyat jenjang SMP di Margodadi, Seyegan pada 2026, sementara sekolah rakyat tingkat SD di Tridadi masih dalam proses pembahasan. “Saat sekolah dibuka, pendamping PKH mendata anak-anak yang benar-benar membutuhkan agar tidak ada yang putus sekolah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa angka anak tidak sekolah (ATS) berhasil ditekan signifikan. “Dari sekitar empat ribu anak, kini turun menjadi dua ribu. Ini capaian besar, tetapi masih membutuhkan kerja keras untuk menyelesaikan sisanya,” tegas Arif. Ia juga memberikan penjelasan mengenai status bencana Sumatra yang belum ditetapkan sebagai bencana nasional karena pertimbangan fiskal daerah. “Jika ditetapkan, setiap provinsi harus mengalokasikan anggaran tambahan. Pemerintah harus menjaga keseimbangan fiskal nasional,” jelasnya.
Sementara itu, Petugas Lapangan KB Kapanewon Tempel, Edi Santoso, mengingatkan bahwa rokok masih menjadi salah satu faktor utama penyebab stunting. “Banyak keluarga menghabiskan anggaran untuk rokok, sehingga kebutuhan gizi anak terabaikan,” ujarnya.
Dalam laporan keamanan wilayah, Kapolsek Tempel Gunawan Setyabudi SH MM menyampaikan bahwa Tempel berada pada kondisi aman dan kondusif, namun kewaspadaan terhadap gerakan radikalisme tetap harus ditingkatkan. Perwakilan Koramil, Peltu Sumaryono, menambahkan imbauan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem serta peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bencana.
Anggota DPRD Sleman, Wahyudi Kurniawan, S.IP., memberikan penekanan kuat mengenai pentingnya pembangunan manusia sebagai fondasi utama keberhasilan pembangunan daerah. “Dalane wis alus, dalane wis padang, nanging kudu diimbangi karo pambangunan manungsa sak utuhe. Etika, moral, integritas, lan peningkatan kapasitas kudu terus dikuatkan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa potensi Tempel yang sangat strategis harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat ekonomi lokal. “Letak Tempel sangat strategis dan punya peluang besar. Kalau kita kelola dengan benar dan terpadu, ini bisa menjadi penggerak ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Rapat koordinasi Forkopimkap Tempel ini menjadi momentum bersama untuk memperkuat komitmen pembangunan, meningkatkan kualitas layanan publik, memperluas akses pendidikan, menjaga keamanan, dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana menjelang tahun 2026.
(SBD – KIM Senyum Tempel)