Salah satu pilihan mengolah daging Qurban adalah membuatnya menjadi abon yang gurih dan dapat disimpan lama. Sandi bersama istrinya di dusun Tegal Domban, Margorejo, Tempel Sleman, menerima jasa membuat abon.
Ditemui saat menggoreng daging abon di halaman rumahnya, Senin 1 Juni 2026, Sandi menjelaskan bahwa kegiatan itu hanya berlangsung empat hari saja, setelah itu volume pesanan mulai menurun dan kurang menguntungkan karena tidak bisa menutup ongkos kerjanya.
Sehari-hari Sandi memproduksi abon ayam dengan merek dagang “Abon Miraos”, namun ketika musim qurban datang, jasa pembuatan abon daging sapi menjadi sangat ramai. Dalam sehari, Mas Sandi bisa mengolah hingga 30 kilogram daging.
Proses membuat abon ternyata tidak sederhana. Daging tanpa gajih terlebih dahulu harus direbus, kemudian ditumbuk agar seratnya terurai. Setelah itu daging digoreng bersama bumbu-bumbu hingga menjadi abon yang kering dan harum.
“Bagian paling penting itu saat penggorengan,” kata Mas Sandi. Penggorengan dilakukan dalam wajan besar di atas tungku kayu bakar. Dalam satu wajan bisa memuat lima kilogram daging. Dua wajan sekaligus berarti sepuluh kilogram sekali proses. Saat minyak mulai dipanaskan, selama setengah jam pertama abon tidak boleh diaduk sampai minyak benar-benar mendidih. Setelah itu barulah diaduk terus-menerus hingga sekitar tiga jam lamanya. Jika lengah sedikit saja, abon bisa melekat di dasar wajan dan gosong. Setelah matang, abon kemudian dikeringkan dengan cara diputar agar minyaknya berkurang. Untuk menggoreng sebanyak itu, minyak yang dibutuhkan bisa mencapai delapan liter setiap hari.
Mas Sandi memilih menggunakan kayu bakar karena dianggap lebih ekonomis dibanding gas. Selain panasnya maksimal, menurutnya penggunaan kayu bakar juga berpengaruh pada cita rasa abon. Sekalipun penggorengan dilakukan di udara terbuka, namun panasnya api tetap menyengat dikulit, tangkai kayu pengaduk tidak cukup panjang untuk mencegahnya. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)