Takbir dan Budaya Menyatu di Tempel, Syiar Islami Dikemas dalam Nuansa Tradisi

  • Sih Budi Daryanto
  • May 30, 2026
Keagamaan

SLEMAN — Tradisi malam takbiran di berbagai daerah Indonesia terus berkembang menjadi ruang syiar yang tidak hanya religius, tetapi juga sarat nilai budaya dan kebersamaan masyarakat. Hal itu terlihat dalam gelaran Tempel Takbiran 2026 bertema “Gumregah Takbir Rinengga Budaya” yang berlangsung di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (29/5/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kapanewon Tempel bersama berbagai unsur masyarakat tersebut diawali dari Masjid At-Taqwa Sono Kulon, Merdikorejo, dan berakhir di Lapangan Lumbungrejo. Selain iring-iringan gema takbir, acara juga diramaikan display takbir kreatif dan pelibatan pelaku UMKM lokal.

Ketua Panitia Pelaksana, Ilham Syukron, mengatakan tema “Gumregah Takbir Rinengga Budaya” dipilih untuk menghadirkan syiar Islam yang dekat dengan masyarakat melalui pendekatan budaya yang santun dan membangun persatuan.

“Melalui tema ini kami ingin menghadirkan takbiran yang bukan hanya meriah, tetapi juga penuh makna, memperkuat kebersamaan, dan memberi ruang kreativitas masyarakat dalam nuansa Islami,” ujarnya.

Menurut Ilham, lomba takbir tahun ini diikuti tujuh kontingen dari Kalurahan Margorejo, Merdikorejo, Sumberrejo, Mororejo, Tambakrejo, serta dua kontingen dari Lumbungrejo. Setiap kontingen terdiri sekitar 50 peserta sehingga total peserta diperkirakan mencapai 350 orang.

“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini menunjukkan tradisi takbir masih menjadi ruang pemersatu warga lintas usia,” katanya.

Setelah melalui penilaian dewan juri, kontingen Lumbungrejo 1 (Sedogan) berhasil meraih juara pertama, disusul Lumbungrejo 2 (Krasakan) sebagai juara kedua, sementara juara ketiga diraih kontingen dari Kalurahan Margorejo.

Ilham menjelaskan, penilaian dilakukan berdasarkan kreativitas, kekompakan, nuansa budaya, dan semangat syiar yang ditampilkan masing-masing peserta.

“Kami mengapresiasi seluruh kontingen yang telah menampilkan kreativitas terbaiknya. Semangat kebersamaan dan syiar menjadi nilai utama dalam kegiatan ini,” tambahnya.

Tema “Gumregah Takbir Rinengga Budaya” sendiri memiliki makna semangat mengagungkan Allah yang dihiasi dan diperkaya dengan budaya serta tradisi masyarakat. Konsep tersebut menjadi simbol perpaduan nilai Islami dan kearifan lokal yang tetap menjaga esensi utama takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Panewu Tempel, Drs. Rasyid Ratnadi Sosiawan, M.Si., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang dinilai mampu menjaga tradisi keagamaan secara tertib sekaligus memperkuat harmoni sosial masyarakat.

“Kegiatan seperti ini menjadi contoh bahwa tradisi keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan budaya lokal secara positif dan membangun. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga ruang memperkuat persatuan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak lepas dari kolaborasi antara pemerintah, panitia, organisasi masyarakat, relawan, serta warga yang bersama-sama menjaga keamanan dan kelancaran acara.

Untuk mendukung kelancaran kegiatan, panitia juga melibatkan unsur Linmas, Kokam, Banser, Tapak Suci, relawan, dan jaga warga dalam pengamanan jalur takbir keliling.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Tempel ingin menghadirkan pesan bahwa tradisi takbiran bukan hanya tentang kemeriahan malam hari raya, tetapi juga tentang membangun rasa syukur, gotong royong, dan semangat persatuan melalui budaya yang membahagiakan.

Di tengah arus modernisasi, Tempel Takbiran 2026 menjadi gambaran bahwa nilai spiritual dan budaya lokal tetap dapat berjalan selaras serta menjadi kekuatan sosial yang mempererat kehidupan masyarakat.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)