Menata Mental, Merubah Mindset serta Pembangunan Karakter Anak melalui Gerakan Ayah Sayang Anak

  • Sih Budi Daryanto
  • Oct 23, 2025
Kesehatan

Menata Mental, Merubah Mindset serta Pembangunan Karakter Anak melalui Gerakan Ayah Sayang Anak 

Tempel - Dalam upaya memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak, Kalurahan Lumbungrejo berkesempatan mendapatkan kegiatan Sosialisasi Gerakan Ayah Sayang Anak dengan tema “Menata Mental dan Merubah Mindset serta Pembangunan Karakter Anak melalui Gerakan Ayah Sayang Anak”, pada Rabu, 22 Oktober 2025 bertempat di Aula Lantai 2 Kalurahan Lumbungrejo, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber inspiratif, di antaranya Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman, Parmilah, S.E., Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Y. Gustan Ganda, S.T., dan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Sleman, Anik Widaryanti, S.P., M.Si.. Turut hadir Lurah Lumbungrejo beserta Carik, Ulu-ulu, Kamituwa, dan seluruh perangkat kalurahan Lumbungrejo.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pokok-pokok pikiran dewan melalui kemitraan program Dinas DP3AP2KB Kabupaten Sleman, sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga dan mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.

Dalam sambutannya, M. Misbah Al-Hakim Lurah Lumbungrejo menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini dan berharap sosialisasi tersebut menjadi awal yang baik dalam pembentukan karakter keluarga perangkat kalurahan, sehingga dapat menularkan nilai-nilai positif tersebut kepada masyarakat luas.

“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi titik awal untuk membangun kesadaran bersama bahwa peran ayah sangat penting dalam membentuk karakter anak. Semoga semangat ini menular hingga ke seluruh masyarakat Lumbungrejo,” ungkapnya.

Sementara itu, Anik Widaryanti dalam penyampaian materinya menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Ia menyoroti fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan anak sebagai isu serius yang perlu segera diatasi.

“Gerakan kembali ke keluarga dan memfungsikan kembali peran-peran ayah dalam pengasuhan serta pendidikan anak menjadi langkah nyata untuk membangun generasi tangguh di masa depan. Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pembentuk karakter anak,” tegasnya.

Melalui gerakan ini, diharapkan kesadaran masyarakat semakin meningkat bahwa keharmonisan dan keterlibatan seluruh anggota keluarga, terutama ayah, memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan mental, karakter, dan masa depan anak-anak bangsa.

Dalam pemaparan materinya, Y. Gustan Ganda, S.T. juga menegaskan pentingnya kehadiran sosok ayah dalam pembentukan karakter dan mental generasi muda Indonesia. Ia mengingatkan bahwa salah satu penyebab bangsa Indonesia belum bisa menjadi negara maju adalah karena generasinya mudah dilemahkan oleh berbagai hal, seperti narkoba, pola pikir konsumtif, hormon dopamin, serta algoritma media sosial yang setiap hari dikonsumsi anak-anak.

“Kita wajib hadir di tengah anak-anak kita, apalagi _panjenengan_ semua adalah pamong atau perangkat kalurahan — orang-orang hebat yang bisa menularkan kesadaran ini ke masyarakat. Kehadiran dan keterlibatan ayah sangat memengaruhi rasa percaya diri, prestasi, serta kemampuan anak untuk bersosialisasi dan mengendalikan emosi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tantangan besar bangsa saat ini bukan lagi penjajahan oleh bangsa lain, tetapi penjajahan oleh perilaku dan pola pikir masyarakat sendiri.

“Kenapa Indonesia belum bisa maju seperti negara kaya lainnya? Karena kita dijajah oleh orang-orang kita sendiri. Maka dari itu, mari bersama-sama kita bentuk karakter anak-anak kita sejak dini agar Indonesia ke depan semakin maju,” tutupnya penuh semangat.

Sementara itu, Parmilah, S.E. dalam materinya menyampaikan bahwa pengasuhan positif adalah kunci dalam membangun masa depan anak yang cerah.

“Kenapa pengasuhan positif penting? Karena pengasuhan ini menekankan kasih sayang, dukungan, dan keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak. Dengan begitu, tercipta lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pengasuhan positif bukan hanya membentuk perilaku baik, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan dan keseimbangan emosi anak.

“Pengasuhan positif membantu anak berkembang secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Praktik pengasuhan seperti ini akan membentuk karakter dan masa depan anak yang lebih baik,” lanjut Parmilah.

Melalui sosialisasi Gerakan Ayah Sayang Anak ini, diharapkan masyarakat semakin sadar bahwa peran ayah dalam keluarga bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pelindung, dan teladan utama dalam membangun generasi yang berkarakter, tangguh, dan berdaya saing tinggi.

Aisyah Putri ( KIM Senyum Tempel)