Mengakar di Tengah Arus Modernitas: Syawalan dan Milad ke-13 PASER Sleman Perkuat Peran Seni Religius

  • Sih Budi Daryanto
  • Apr 20, 2026
Budaya

Mengakar di Tengah Arus Modernitas: Syawalan dan Milad ke-13 PASER Sleman Perkuat Peran Seni Religius

SLEMAN – Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggeser nilai-nilai tradisi, upaya menjaga seni berbasis spiritual justru menemukan momentumnya di tingkat akar rumput. Hal itu tercermin dalam perayaan Syawalan dan Milad ke-13 Paguyuban Seni Religius (PASER) Kabupaten Sleman, yang digelar Sabtu (18/4) di Aula Kalurahan Sukoharjo, Ngemplak

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan juga ruang konsolidasi budaya yang mempertemukan seni, nilai keagamaan, dan penguatan komunitas dalam satu panggung kebersamaan.

Suasana acara dibuka dengan lantunan musik religi dari grup Paseria Nada, menghadirkan nuansa khidmat yang mengikat para peserta dalam refleksi spiritual. Lagu “Gema Wahyu Ilahi” yang dikumandangkan menjadi pengingat bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium penanaman nilai moral.

Ketua panitia, Nurudin, S.Pd., menegaskan bahwa perjalanan 13 tahun PASER merupakan bukti ketahanan komunitas seni dalam menjaga identitas lokal. “Kami tidak sekadar merayakan usia organisasi, tetapi merawat semangat agar seni religius tetap hidup dan relevan. Ini adalah bagian dari upaya menjaga karakter masyarakat di tengah perubahan zaman,” ujarnya.

Kehadiran unsur pemerintah daerah dalam kegiatan ini menjadi penanda bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab komunitas, tetapi juga bagian dari agenda pembangunan.

Dukungan tersebut ditegaskan oleh Esti Listyowati, S.E., M.M., Kepala Bidang Warisan Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, yang menyampaikan bahwa pemerintah terus melakukan pembinaan secara berkelanjutan.

“Dukungan dari dinas tentu saja ada, seperti pembinaan yang kita lakukan hari ini. Pembinaan itu bisa dalam bentuk dukungan anggaran maupun sosialisasi dan pendampingan lainnya. Sumbernya dari dana keistimewaan maupun APBD,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh langsung dinamika di lapangan. “Kalau ada kendala di lapangan, kami memberikan motivasi, kemudian kami cek penyebabnya apa. Permasalahan itu kita rembuk bersama, baik dengan kelompok sanggar maupun pengurusnya. Kami juga berkolaborasi dengan dinas terkait, tetapi tetap tidak lepas dari peran PASER di tingkat kapanewon dan kabupaten,” tambah Esti.

Momentum pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur menjadi puncak perayaan, sekaligus menegaskan perjalanan panjang organisasi yang terus bertahan dan berkembang.

Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pengukuhan Koordinator Kapanewon (Korkap), yang menjadi langkah strategis dalam memperluas jangkauan gerakan PASER hingga ke tingkat wilayah.

Ketua PASER Kabupaten Sleman, Afnan Haryadi, menyebut penguatan struktur ini sebagai bentuk desentralisasi gerakan budaya. “Kami ingin setiap wilayah memiliki penggerak seni religius yang aktif dan mampu merangkul generasi muda. Dari situlah keberlanjutan tradisi bisa dijaga,” katanya.

Langkah ini dinilai penting agar aktivitas seni tidak terpusat, melainkan tumbuh secara merata dan kontekstual sesuai karakter masyarakat setempat.

Acara ditutup dengan ikrar Syawalan yang dipimpin oleh Untung Raharjo, menjadi simbol saling memaafkan sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas pasca-Ramadan.

Nuansa kebersamaan juga tercermin dari keseragaman busana peserta—atasan putih dan bawahan hitam—yang melambangkan kesucian niat serta keteguhan dalam mengabdi pada seni dan masyarakat.

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Syawalan dalam konteks ini menjadi ruang rekonsiliasi sosial yang memperkuat solidaritas komunitas.

Apa yang dilakukan PASER Sleman menunjukkan bahwa kekuatan budaya tidak selalu lahir dari panggung besar, melainkan dari konsistensi komunitas dalam menjaga nilai dan identitas.

Di tengah tantangan globalisasi, model penguatan berbasis komunitas seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam merawat seni tradisional sekaligus membangun kohesi sosial.

PASER tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai motor penggerak yang memastikan bahwa modernitas berjalan beriringan dengan kearifan lokal—bukan menggantikannya.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)