Nguri-Uri Budaya Nusantara: Menyatukan Spiritualitas dan Tradisi dalam Harmoni Gamelan Sholawat

  • Sih Budi Daryanto
  • Apr 19, 2026
Budaya , Keagamaan

Nguri-Uri Budaya Nusantara: Menyatukan Spiritualitas dan Tradisi dalam Harmoni Gamelan Sholawat

Sleman — Upaya merawat kearifan lokal kembali digaungkan melalui sebuah perhelatan budaya bertajuk Nguri-Uri Budaya Nusantara yang digelar pada Sabtu malam (18/4/2026) di Joglo Singodikoro, Kadisono Margorejo Tempel Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini menghadirkan pertunjukan Gamelan Sholawat, sebuah perpaduan harmonis antara seni tradisi Jawa dan nilai-nilai spiritual keagamaan.

Mengusung tema “Senjakala Agama dan Kebudayaan Nusantara”, kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung seni, tetapi juga ruang refleksi tentang keterkaitan erat antara budaya dan religiusitas dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Pimpinan PP Roudlotul Fattah Pleret, Gus Fuad Plered, yang hadir sebagai pengisi utama, menegaskan bahwa budaya dan agama merupakan dua hal yang saling menguatkan. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan bahwa kecintaannya pada budaya juga tercermin dalam setiap pengajian yang ia pimpin.

“Kenapa dalam setiap pengajian selalu kita nyanyikan Indonesia Raya tiga stanza? Karena itu bukan sekadar lagu kebangsaan, tetapi doa untuk seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga identitas budaya, khususnya budaya Jawa, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. “Kalau kita tidak suka atau tidak mencintai budaya Jawa, artinya kita telah durhaka kepada leluhur nenek moyang kita,” tegasnya.

Lebih jauh, Gus Fuad mengingatkan bahwa tradisi gamelan Jawa memiliki akar sejarah panjang yang tidak hanya dimulai pada masa dakwah Sunan Kalijaga, tetapi telah berkembang jauh sebelumnya. “Nenek moyang orang Jawa sudah memiliki kemampuan metalurgi dalam membuat alat kesenian dari logam. Ini menunjukkan bahwa budaya kita sangat maju sejak dulu,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan gamelan saja tidak cukup tanpa adanya upaya pembinaan.

“Yang lebih penting bukan hanya memiliki gamelan, tetapi bagaimana kita mengajarkan dan mengajak generasi muda agar mau mencintai dan mempelajari budaya Jawa, khususnya gamelan,” lanjutnya.

Selain pertunjukan dan tausiyah, acara ini juga ditandai dengan penyerahan hibah seperangkat gamelan slendro dan pelog dari Pemerintah Kalurahan Margorejo yang diberi nama “Singo Langen Sih” kepada Joglo Singodikoro Kadisono sebagai bentuk nyata komitmen pelestarian budaya Jawa. Hibah tersebut diterima langsung oleh R Chaerul Wardana, Pemangku ndalem Joglo Singodikoro Kadisono, Margorejo, Tempel, Sleman.

Sementara itu, Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan, SH, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat. “Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan. Harapannya, generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga ikut melestarikan budaya Nusantara,” ujarnya.

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, kegiatan semacam ini dinilai semakin relevan sebagai upaya menjaga jati diri bangsa. Pendekatan budaya yang dikemas secara religius juga menjadi sarana efektif untuk menyampaikan nilai-nilai kebangsaan dan spiritualitas secara damai dan inklusif.

Melalui kegiatan ini, semangat nguri-uri atau merawat budaya diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi terus tumbuh menjadi gerakan nyata lintas generasi dalam menjaga dan mengembangkan warisan luhur Nusantara.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)