Pelatihan Panatacara Didorong Lebih Profesional, Budaya Jawa Diperkuat Lewat Manajemen dan Karakter
SLEMAN — Profesi panatacara atau pembawa acara adat Jawa kini dituntut tidak hanya piawai bertutur, tetapi juga memiliki manajemen diri, etika, dan kecerdasan sosial yang matang. Dalam acara yang menghadirkan Kepala Pawiyatan Panatacara sekaligus Pamedhar Sabda Permadani Wonosobo, H. A. Mukholis, memberikan materi kebudayaan bertema “Piranti Spesial: Manajemen Pelatihan Menjadi Panatacara Profesional” dalam rangkaian pelantikan pengurus DPD PPY Kabupaten Sleman di Pendopo Parasamya Komplek Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman pada Selasa (27/1/2026)
Turut hadir Sekretaris Daerah Sleman Drs. Susmiarto, MM mewakili Bupati Sleman, serta sejumlah perwakilan organisasi perangkat daerah yang selama ini bersinergi dengan PPY, di antaranya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman, Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK), serta Dinas Pemuda dan Olahraga.
Di hadapan pengurus baru, peserta dan undangan, Mukholis menegaskan bahwa panatacara modern harus mampu menjembatani tradisi dan kebutuhan zaman. “Panatacara bukan sekadar pembaca acara. Ia adalah pengarah suasana, penjaga nilai, sekaligus wajah budaya di hadapan publik,” ujar Mukholis.
Dalam materinya, Mukholis memperkenalkan lima “piranti spesial” atau perangkat utama yang harus dimiliki calon panatacara profesional.
Pertama, mengelola mimpi. Ia menyebut, seseorang perlu memiliki visi, arah, dan motivasi yang jelas agar perjalanan belajar tidak berhenti di tengah jalan. Mimpi, menurutnya, menjadi fondasi pengembangan diri.
Kedua, mengembangkan kecerdasan pikiran. Panatacara dituntut memiliki wawasan luas, kemampuan memahami situasi, serta kepekaan terhadap konteks acara. Ini mencakup kecerdasan bahasa, logika, dan daya analisis.
Ketiga, bekerja dengan hati. Mukholis menekankan pentingnya ketulusan dan empati. Seorang panatacara, katanya, harus mampu merasakan suasana batin tuan rumah maupun hadirin. “Kalau hanya membaca teks, itu mesin. Panatacara harus hadir dengan rasa,” tuturnya.
Keempat, sikap dan kematangan prestasi. Etos kerja, kedisiplinan, serta konsistensi dalam menjaga kualitas disebut sebagai bagian dari profesionalitas. Reputasi dibangun lewat proses panjang, bukan instan.
Kelima, mengenali potensi sosial. Kemampuan berjejaring, bekerja sama, dan berkomunikasi lintas kalangan menjadi bekal penting agar panatacara mampu beradaptasi di berbagai forum.
Tak hanya aspek teknis, pelatihan juga diarahkan pada pembentukan karakter. Mukholis menyebut beberapa target utama, di antaranya sikap easy going atau luwes dalam pergaulan, kemampuan wicara yang matang layaknya “maestro”, pola pikir terbuka, serta tata krama sebagai fondasi utama. Menurutnya, tata krama bukan sekadar formalitas, melainkan cermin penghargaan terhadap nilai sosial. “Bahasa boleh indah, tapi kalau tanpa unggah-ungguh, ruh budayanya hilang,” katanya.
Pendekatan pelatihan yang memadukan manajemen diri, kecakapan komunikasi, dan nilai budaya ini menunjukkan bahwa profesi panatacara bergerak menuju standar yang semakin profesional. Di tengah maraknya acara formal, seremoni, hingga event budaya, kebutuhan akan pembawa acara adat yang terlatih terus meningkat.
Mukholis menilai, penguatan kompetensi panatacara bukan hanya untuk kepentingan seremoni, tetapi bagian dari menjaga marwah budaya di ruang publik modern. “Ketika budaya tampil dengan cara yang terhormat dan profesional, di situlah identitas bangsa berdiri dengan percaya diri,” ujarnya.
Melalui pendekatan pelatihan yang sistematis ini, panatacara tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap acara, melainkan aktor penting dalam merawat nilai, membangun suasana, dan menghidupkan tradisi agar tetap relevan di era kekinian. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)