Pemberdayaan Lansia Berbasis Komunitas Menguat, PKK Dorong Lansia Sehat dan Mandiri dari Tingkat Desa
SLEMAN - Upaya peningkatan kualitas hidup lanjut usia (lansia) terus diperkuat melalui pendekatan berbasis keluarga dan komunitas. Model ini tampak dalam kegiatan Kelas Lansia: Lansia Sehat dan Mandiri yang digerakkan Tim Penggerak PKK tingkat kalurahan sebagai bagian dari program kerja Pokja 1, yang berfokus pada pembinaan karakter keluarga, ketahanan mental, dan kesejahteraan sosial.
Kegiatan yang berlangsung di ruang pertemuan Kalurahan Margorejo Tempel Sleman pada Sabtu (31/1/2026) ini menghadirkan perwakilan lansia dari berbagai padukuhan. Forum ini menjadi ruang belajar bersama sekaligus wadah silaturahmi, dengan penekanan pada pentingnya menjaga kesehatan fisik, psikologis, dan peran sosial di usia lanjut.
Materi pertama disampaikan oleh Dwi Martini Budi Utami, S.E. dari Kapanewon Tempel, yang mengulas berbagai kebiasaan penting yang perlu diterapkan lansia dalam kehidupan sehari-hari. “Kesehatan lansia sangat ditentukan oleh kebiasaan harian. Aktivitas fisik ringan, pola makan seimbang, minum cukup, istirahat teratur, serta menjaga pikiran tetap positif adalah fondasi utama. Hal sederhana tapi konsisten jauh lebih berdampak,” jelasnya.
Ia menambahkan, interaksi sosial juga tidak kalah penting. “Lansia perlu tetap bersosialisasi agar tidak merasa kesepian. Kesehatan mental sangat berpengaruh pada kondisi fisik,” ujarnya.
Materi kedua disampaikan oleh Ketua Pokja 1 PKK Margorejo, Haniroh Astuti, S.Pd., M.M., yang menekankan aspek kemandirian dan penghargaan terhadap peran lansia dalam keluarga. “Kami ingin lansia tetap merasa berharga, aktif, dan punya peran. Lansia sehat bukan hanya tubuhnya, tetapi juga hatinya bahagia dan merasa didukung keluarga,” kata Haniroh.
Menurutnya, keluarga memegang peran sentral dalam mendampingi lansia. “Anak dan cucu perlu lebih peduli, mulai dari memperhatikan asupan makanan, mengajak beraktivitas ringan, sampai memberi ruang bagi orang tua untuk tetap terlibat dalam kegiatan keluarga. Dukungan emosional itu sangat penting,” tambahnya.
Fenomena penuaan penduduk di berbagai daerah di Indonesia menjadikan program seperti kelas lansia semakin relevan. Lansia kini tidak lagi dipandang sebagai kelompok pasif, tetapi sebagai individu yang tetap memiliki potensi sosial dan pengalaman hidup yang berharga.
Gerakan ini menunjukkan bagaimana PKK sebagai organisasi kemasyarakatan mampu menjembatani program pemerintah dengan kebutuhan riil warga. Dengan pendampingan berkelanjutan, kelas lansia di tingkat komunitas diharapkan menjadi praktik baik yang dapat direplikasi di berbagai daerah dalam mewujudkan lansia Indonesia yang sehat, aktif, dan mandiri.
(SBD KIM SENYUM TEMPEL)