Pengajian dan Mujahadah Satu Abad NU Gaungkan Kembali Khittah 1926, Spirit Keagamaan dan Kebangsaan Diteguhkan
SLEMAN — Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) terus menjadi momentum refleksi spiritual sekaligus penguatan komitmen kebangsaan di berbagai daerah. Salah satu rangkaian kegiatan tersebut diwujudkan melalui pengajian dan mujahadah yang digelar Minggu malam (1/2/2026) di Aula Kalurahan Banyurejo, Sleman, dengan menghadirkan Kyai Drs. Sularno, MA dari PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai pembicara.
Mengusung tema “Luruskan Niat, Perbaiki Diri, Jaga Hati, Kembali Murni Sesuai Khittah 1926”, kegiatan ini menjadi ruang perenungan bersama bagi masyarakat lintas usia. Sejak pukul 20.00 WIB, jamaah memadati aula dengan suasana khidmat, mengikuti rangkaian doa, dzikir, dan tausiyah yang menekankan pentingnya pembenahan diri di tengah dinamika zaman.
Acara semakin semarak sekaligus syahdu dengan penampilan grup hadroh Qurrata A’yun dari Plambongan Banyurejo. Lantunan shalawat yang dibawakan dengan irama khas tradisi pesantren menghadirkan nuansa religius yang mendalam. Shalawat tidak hanya menjadi hiburan rohani, tetapi juga memperkuat ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai inti dari tradisi keagamaan warga nahdliyin.
Dalam tausiyahnya, Kyai Sularno menegaskan bahwa satu abad NU harus dimaknai sebagai momentum kembali pada ruh perjuangan para ulama pendiri. “Khittah 1926 mengajarkan kita untuk meluruskan niat dalam berkhidmat, menjaga kemurnian ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, dan tetap setia pada nilai kebangsaan. NU berdiri untuk agama sekaligus untuk Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembenahan umat dimulai dari pembenahan hati. “Perbaikan bangsa tidak bisa dilepaskan dari perbaikan akhlak masyarakatnya. Mujahadah seperti ini adalah cara kita menguatkan batin agar tetap jernih menghadapi tantangan zaman,” kata dia.
Perwakilan Pengurus Ranting NU Banyurejo, Ichwan SH, menyebut antusiasme warga menunjukkan bahwa tradisi pengajian tetap menjadi kebutuhan spiritual masyarakat. “Kami ingin peringatan satu abad NU ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum memperbaiki diri bersama. Semangat khittah harus terasa dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Lebih luas, kegiatan ini mencerminkan peran komunitas keagamaan dalam merawat kohesi sosial. Di tengah perubahan sosial yang cepat, forum doa dan pengajian menjadi ruang mempertemukan nilai religius, budaya, dan kebangsaan secara harmonis.
Melalui mujahadah, pengajian, dan lantunan shalawat, pesan satu abad NU kembali ditegaskan: memperkuat iman, menjaga persaudaraan, serta meneguhkan komitmen kebangsaan — sebuah warisan nilai yang tetap relevan bagi Indonesia hari ini dan masa depan. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)