Posyandu Lansia dan Edukasi Kesehatan Sendi Digelar, Warga Diajak Lebih Peduli Kualitas Hidup di Usia Senja
Sleman - Upaya memperkuat kualitas hidup warga lanjut usia terus digalakkan di tingkat komunitas. Seperti yang berlangsung pada Selasa, 13 Januari 2026, ketika kader Bina Keluarga Lansia (BKL) RT 03 bersama para lansia setempat mengikuti kegiatan BKL Cemara Ngentak dengan agenda Posyandu Lansia serta penyuluhan kesehatan.
Kegiatan tersebut digelar di Sekretariat BKL Cemara RT 02, Padukuhan Ngentak, Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, Sleman. Meski berangkat dari lingkup lokal, model layanan yang menggabungkan pemeriksaan kesehatan, edukasi medis, dan penguatan peran komunitas ini mencerminkan praktik baik yang relevan diterapkan di berbagai daerah.
Materi utama disampaikan oleh dokter dari RS At Taurots Al Islamy yang beralamat di Jl. Godean - Seyegan, Klaci I, Margoluwih, Seyegan, Sleman, dr. Badrul Munir Jauhari, yang mengulas dua persoalan sendi yang banyak dialami usia lanjut, yakni osteoarthritis dan gout arthritis. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa gangguan sendi bukan semata akibat penuaan, melainkan dapat dikelola melalui pola hidup sehat dan deteksi dini.
“Osteoarthritis terjadi akibat keausan sendi, sementara gout arthritis dipicu oleh penumpukan asam urat. Keduanya bisa dikendalikan jika masyarakat memahami gejala awal, menjaga berat badan, mengatur pola makan, dan tetap aktif sesuai kemampuan,” ujar dr. Badrul di hadapan peserta.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dalam menjaga kemandirian lansia. Menurutnya, pendekatan promotif dan preventif di tingkat komunitas menjadi kunci untuk menekan risiko kecacatan dan mempertahankan kualitas hidup di usia lanjut.
Ketua BKL Cemara, Jamiatun Mufidah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen kader untuk menghadirkan layanan yang menyentuh kebutuhan nyata warga. “Kami ingin para lansia merasa diperhatikan dan didampingi. Posyandu Lansia dan penyuluhan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang belajar bersama agar warga tetap sehat, mandiri, dan produktif di usia senja,” tuturnya.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan tenaga medis dari rumah sakit diharapkan dapat memperkaya wawasan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pencegahan penyakit sejak dini. “Ketika warga memahami kondisi tubuhnya, mereka akan lebih siap menjaga kesehatan dan kualitas hidupnya,” imbuh Jamiatun.
Kegiatan berlangsung interaktif. Selain pemeriksaan kesehatan dasar, para lansia aktif berdialog dengan narasumber mengenai keluhan sendi yang kerap mengganggu aktivitas harian. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa edukasi kesehatan berbasis komunitas masih menjadi kebutuhan penting, terutama di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia secara nasional.
Melalui kegiatan sederhana namun konsisten, BKL Cemara di Padukuhan Ngentak memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas hidup lansia tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar. Dari ruang-ruang komunitas yang peduli dan kolaboratif, praktik baik dapat tumbuh dan menginspirasi daerah lain untuk membangun masyarakat yang lebih sehat, inklusif, dan berdaya.
(SBD KIM SENYUM TEMPEL)