SLEMAN — Pelaksanaan Idul Qurban tidak hanya menjadi momentum ibadah keagamaan, tetapi juga ruang memperkuat solidaritas sosial dan kebersamaan masyarakat. Semangat itu tampak dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di Padukuhan Sedogan, Kalurahan Lumbungrejo Kapanewon Tempel Kabupaten Sleman, Rabu (27/5/2026), yang tahun ini berlangsung lebih semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kegiatan yang dipusatkan di halaman makam padukuhan tersebut mencatat peningkatan jumlah hewan kurban yang disembelih, yakni enam ekor sapi dan 13 ekor kambing. Jumlah itu menjadi perhatian warga karena menunjukkan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam beribadah sekaligus berbagi kepada sesama.
Tahun ini, pelaksanaan kurban di Sedogan juga mendapat dukungan tambahan berupa hibah satu ekor sapi dari anggota DPR RI fraksi PDI Perjuangan, GM Totok Hedi Santosa. Bantuan tersebut dinilai menambah semangat warga dalam menyelenggarakan ibadah kurban secara gotong royong.
Dukuh Padukuhan Sedogan, Aisyah Putri Wulansari, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas perhatian yang diberikan kepada warganya. Menurutnya, bantuan hewan kurban tersebut membawa manfaat besar karena dapat dinikmati bersama oleh masyarakat. “Kami mewakili warga Sedogan tentu merasa senang dan sangat berterima kasih karena tahun ini mendapat hibah satu ekor sapi. Bantuan ini bisa dinikmati seluruh warga, terutama panitia dan masyarakat yang menerima daging kurban,” ujarnya di sela kegiatan.
Ia menambahkan, antusiasme warga dalam pelaksanaan kurban terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal itu terlihat dari bertambahnya jumlah hewan kurban yang berasal dari para sohibul qurban di lingkungan padukuhan sendiri. “Ini menjadi tanda bahwa kesadaran masyarakat untuk beribadah dan berbagi juga semakin tinggi. Kami berharap Idul Qurban kali ini semakin memperkuat kebersamaan, kekompakan warga, sekaligus menambah keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.
Sementara itu, GM Totok Hedi Santosa mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat dalam penyelenggaraan ibadah kurban. Menurutnya, kurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarana memperkuat nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. “Makna utama dari ibadah kurban adalah semangat berbagi. Semua masyarakat dapat merasakan manfaatnya tanpa membedakan agama maupun golongan. Nilai kebersamaan seperti inilah yang perlu terus dijaga,” ujarnya.
Fenomena meningkatnya partisipasi masyarakat dalam berkurban dinilai menjadi gambaran tumbuhnya kesadaran sosial di tingkat akar rumput. Di berbagai daerah, tradisi kurban tidak hanya dimaknai sebagai bentuk ketaatan spiritual, tetapi juga momentum mempererat hubungan sosial, memperkuat budaya gotong royong, serta membangun kepedulian terhadap sesama di tengah dinamika kehidupan masyarakat modern.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)