Relawan Lumbungrejo Perkuat Mitigasi Bencana, Antisipasi Cuaca Ekstrem di Kawasan Permukiman

  • Sih Budi Daryanto
  • Jan 18, 2026
Sosial Masyarakat

Relawan Lumbungrejo Perkuat Mitigasi Bencana, Antisipasi Cuaca Ekstrem di Kawasan Permukiman

Upaya mitigasi bencana berbasis komunitas terus diperkuat di berbagai daerah sebagai respons terhadap meningkatnya intensitas cuaca ekstrem. Di kalurahan Lumbungrejo Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, relawan bersama pemerintah kalurahan mengambil langkah nyata untuk mengurangi risiko bencana, khususnya di wilayah permukiman yang rawan terdampak angin kencang dan hujan lebat.

Pada Minggu (18/1/2026), Tim Relawan Lumbungrejo yang tergabung dalam TRC Lumbungrejo melaksanakan kegiatan mitigasi di Padukuhan Wonokerso, Kalurahan Lumbungrejo. Fokus kegiatan diarahkan pada penanganan pohon-pohon tua dan rapuh yang dinilai berpotensi tumbang dan membahayakan keselamatan warga. Sebanyak lima pohon dari berbagai jenis—kelapa, waru, rambutan, durian, dan sonokeling—ditebang secara terkendali setelah melalui pemantauan kondisi lapangan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pencegahan dini yang kini semakin penting, seiring perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem di banyak wilayah Indonesia. Selain melindungi rumah warga dan fasilitas umum, mitigasi ini juga bertujuan meminimalkan risiko terputusnya akses jalan dan jaringan listrik saat terjadi bencana.

Apresiasi terhadap gerak cepat para relawan disampaikan oleh Jogoboyo Lumbungrejo, Nugroho Subagyo, yang hadir mewakili Lurah Lumbungrejo. Ia menilai keterlibatan relawan menunjukkan tingginya kesadaran kolektif masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. “Mitigasi seperti ini adalah bentuk kepedulian bersama. Relawan tidak menunggu bencana datang, tetapi bergerak lebih awal untuk melindungi warga. Atas nama pemerintah kalurahan, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya,” ujar Nugroho.

Senada dengan itu, Ketua Tim Relawan Cepat (TRC) Lumbungrejo, Rohmat Jatmiko, menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan tersebut tidak lepas dari soliditas dan semangat kebersamaan seluruh anggota relawan. “Kami bekerja dengan satu tujuan, yaitu keselamatan warga. Terima kasih kepada seluruh anggota yang tetap bersemangat dan saling mendukung dalam pelaksanaan mitigasi ini. Sinergi seperti inilah yang menjadi kekuatan utama relawan di lapangan,” kata Rohmat.

Kegiatan mitigasi di Lumbungrejo menjadi contoh praktik baik penanggulangan risiko bencana berbasis masyarakat. Model kolaborasi antara relawan dan pemerintah lokal ini dinilai relevan untuk diterapkan di berbagai daerah lain, terutama di wilayah yang rawan terdampak cuaca ekstrem. Dengan kesiapsiagaan dan langkah preventif yang konsisten, risiko bencana di tingkat komunitas dapat ditekan sejak dini, sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)