Di wilayah Medari, Kapanewon Sleman, Kabupaten masih berdiri kokoh bangunan mirip gerbang sering luput dari perhatian karena letaknya tersembunyi sekitar 500 meter di selatan SBPU Medari. Bentuknya sederhana, hanya berupa penyangga jembatan kereta api yang kini tidak lagi terhubung dengan rel maupun urugan tanah. Namun bagi mereka yang mengenal sejarahnya, bangunan itu adalah saksi bisu kejayaan jalur kereta api Yogyakarta–Magelang–Ambarawa.
Dahulu, di atas bangunan itu terbentang rel kereta api yang menghubungkan Yogyakarta dengan Magelang hingga Ambarawa. Sementara di bagian bawahnya melintas jalur lori pengangkut tebu menuju Pabrik Gula Medari, salah satu pabrik gula yang pernah berjaya di wilayah ini. Kini pabrik gula itu sudah lama tiada. Di lokasi yang sama berdiri pabrik kain mori milik GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia).
Kenangan tentang jalur kereta ini masih tersimpan jelas dalam ingatan Djoko Sunarto, 78 tahun. Warga asal Temanggung itu, Selasa 16 Juni 2026 bercerita, “Pada tahun 1960-han, saya pernah menjadi penumpang setia kereta uap yang oleh masyarakat akrab disebut ‘Sepur Kluthuk’ itu. Saya kuliah di UGM Jogja, indekost di Mergangsan Lor dan tiap minggu pulang menggunakan sepur itu”
“Penumpang bercampur para pelajar, pegawai, petani, bakul hingga pedagang makanan tradisional yang menjajakan dagangannya selama perjalanan. Jendela kereta selalu terbuka sehingga penumpang dapat menikmati udara segar sekaligus menyaksikan pemandangan sawah, kebun, dan perkampungan yang terbentang di sepanjang jalur”, kenangnya. “Kereta melewati sejumlah stasiun kecil seperti Guntur, Nguwet, Kranggan, Payaman, Magelang, Mertoyudan, Tempel, Medari, Sleman hingga berakhir di Stasiun Tugu Yogyakarta. Pada beberapa bagian jalur, rel bahkan berdampingan dengan jalan raya sehingga kereta, sepeda, dan kendaraan bermotor terlihat berjalan beriringan”, lanjutnya.
Jalur kereta Yogyakarta–Magelang–Ambarawa sendiri memiliki sejarah panjang. Jalur ini dibangun pada masa kolonial Belanda dan menjadi salah satu sarana transportasi penting bagi masyarakat serta pengangkutan hasil perkebunan dari daerah pedalaman menuju Yogyakarta. Selain penumpang, kereta juga berperan mendukung industri gula yang berkembang pesat di wilayah Sleman dan Magelang pada awal abad ke-20.
Menurut catatan sejarah, operasional jalur ini berhenti pada tahun 1975. Salah satu penyebabnya adalah rusaknya jembatan kereta api di atas Kali Krasak, sekitar empat kilometer dari Medari. Jembatan tersebut diterjang lahar dingin Gunung Merapi sehingga jalur tidak dapat lagi dilalui. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)