Ibu-ibu Tempel Belajar Mengenal Jamur Antagonis Sebagai Musuh Alami Uret

  • Sih Budi Daryanto
  • Jun 11, 2026
Features

Uret atau ulat tanah adalah phase larva serangga sejenis kumbang, yang saat ini meresahkan banyak petani di Tempel. Telur kumbang umumnya berasal dari pupuk organik yang pengolahannya belum “matang”, jelas pembicara tamu, Theresia Nastiti Larasati, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), pada pertemuan Kelompok Wanita Tani, “Dahlia Bersemi” dari padukuhan Lodoyong, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel Sleman.

Pertemuan bulanan yang secara secara rutin setiap tanggal sepuluh itu kali ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 10 Juni 2026 di dusun Lohdoyong. Rapat yang dipimpin oleh Ketua KWT "Dahlia Bersemi", Rusmiyanti. Hadir juga dalam pertemuan itu, Purwanto Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan.(PPL).

“Biasanya sumber telur kumbang itu pada penggunaan pupuk organik. Sesungguhnya pupuk organik yang sudah difermentasikan dengan sempurna, kandungan telur uretnya sudah mati dan pupuk aman untuk digunakan”, kata Theresia. “Namun bila pengolahan pupuk belum sempurna, kotoran hewan yang mengandung telur larva uret, masih bisa menetas dan menjadi uret”, lanjutnya.

Salah satu tanda bahwa pupuk belum matang sempurna ialah bila suhu pupuk masih hangat. Dalam kondisi demikian, pupuk hendaknya jangan langsung dipergunakan namun harus diolah kembali sekurang-kurangnya selama seminggu, kemudian ditambahkan bibit jamur antagonis, Metarizi dan dibubuhi gula secukupnya. Jamur akan membersihkan pupuk dari kandungan telur uret.

Bila pupuk sudah terlanjur dipergunakan di tanah, pemakaian jamur dengan cara disiramkan, setelah terlebih dahulu bibit jamur dilarutkan dalam air dan diberi gula. Penyiraman harus dilakukan secara berulang sampai sekurang-kurangnya tiga kali.

Theresia juga menyampaikan secara rinci habitat, jenis kumbang induk uret serta siklus methamorposanya. Menutup acara diskusi, Theresia menyarankan penggunaan sebagai bahan nabati sebagai pembasmi uret, dari pada insectisida kimia yang bisa merusak struktur hara tanah. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)