Anti Boikot: Ayam Goreng Gerobak Riyanto Setia Melayani Warga

  • Sih Budi Daryanto
  • Jun 23, 2026
Features

Tidak mungkin gara-gara penjual ayam seperti kami membuat KFC rugi ratusan miliar rupiah, Pak,” ujar Riyanto ketika ditemui di gerobak ayam gorengnya di Perempatan Merdikorejo–Turi, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Selasa, 23 Juni 2026.

Menurutnya, usaha ayam goreng gerobak yang ia jalankan berada pada segmen yang berbeda dengan restoran cepat saji berskala nasional maupun internasional. Saat ini, selain merek-merek besar, semakin banyak pula usaha ayam goreng waralaba yang didukung modal besar dan tersebar hingga pelosok desa.

Meski demikian, usaha kecil seperti miliknya memiliki keunggulan tersendiri. Riyanto mengolah ayam secara mandiri mulai dari penyembelihan hingga penggorengan. Setiap hari ia membeli tiga ekor ayam hidup dari pemasok di wilayah Turi. Ayam tersebut disembelih sendiri sesuai syariat Islam, kemudian dipotong menjadi sekitar 40 bagian sebelum dibumbui dan digoreng.

Layaknya ayam goreng tepung modern, potongan ayam dibalut tepung dua kali sehingga menghasilkan lapisan yang renyah. Selain bagian paha dan dada, ia juga menjual kepala, ceker, usus, serta bagian lain yang masih diminati sebagian masyarakat. Dengan cara itu, Riyanto dapat memastikan ayam yang dijualnya selalu segar karena diproses dan digoreng pada hari yang sama. Faktor kesegaran dan kepastian kehalalan menjadi alasan mengapa sebagian pelanggan tetap setia membeli di gerobaknya.

Selain ayam goreng, Riyanto juga menjajakan lele goreng tepung dan tahu goreng tepung. Aroma gurih dari penggorengan besar yang berada di samping gerobaknya sering kali menarik perhatian pengguna jalan yang melintas di perempatan yang cukup ramai tersebut.

Setiap hari ia mulai berjualan sekitar pukul 09.00 WIB dan menutup usahanya pada pukul 17.00 WIB. Sebagian besar pembelinya merupakan warga sekitar serta para pengguna jalan yang singgah untuk membeli lauk siap santap.

Namun, menjalankan usaha kecil saat ini bukan perkara mudah. Kenaikan harga berbagai bahan baku menjadi tantangan yang terus dihadapi. “Jumlah pembeli menurun, sementara harga semua bahan naik, Pak. Minyak goreng naik, tepung naik, bahkan plastik pembungkus juga naik,” keluhnya.

“Di sekitar sini ada beberapa penjual ayam goreng. Saya sudah berusaha bertahan, tetapi akhirnya tidak mampu lagi menahan kenaikan biaya. Bulan lalu terpaksa menaikkan harga. Ya, kalau tidak habis terjual, biasanya saya makan sendiri, Pak,” katanya sambil tersenyum. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)