Soto Faruk, Cita Rasa Madura yang Bertahan di Negeri Soto

  • Sih Budi Daryanto
  • Jun 22, 2026
Kuliner , Features

Yogyakarta kerap dijuluki sebagai "negeri soto". Julukan itu bukan tanpa alasan. Di berbagai sudut kota dan pedesaan, warung soto mudah ditemukan. Bahkan terdapat beberapa ruas jalan yang oleh masyarakat dikenal sebagai "jalur soto", di antaranya Jalan Solo, Jalan Wates, dan Jalan Magelang.

Di sepanjang Jalan Magelang, khususnya pada ruas sekitar 14 kilometer dari Terminal Jombor hingga Pasar Tempel, terdapat sekitar 20 warung soto yang menawarkan berbagai cita rasa. Fakta ini menunjukkan bahwa soto bukan sekadar masakan, melainkan telah menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat Yogyakarta. Dengan kuah bening yang ringan, irisan sayuran yang halus, dan rasa yang tidak terlalu kuat, soto Jogja menjadi pilihan favorit untuk sarapan maupun makan siang.

Di tengah dominasi soto khas Jogja tersebut, di desa pinggiran justru hadir sebuah warung yang menawarkan cita rasa berbeda. Berada di kawasan Perempatan Gendol, Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Warung Soto Madura milik Faruk berhasil menarik perhatian para pecinta kuliner.

Berbeda dengan soto Jogja yang cenderung ringan, Soto Madura memiliki kuah yang lebih kaya rasa dan berwarna lebih pekat. Taburan “koya” , campuran kerupuk udang dan bawang putih yang dihaluskan, menambah kekentalan sekaligus memperkuat cita rasanya. Irisan dada ayam yang tipis dan lebar tersaji di atas kuah, sementara kubis mentah yang diiris halus menghadirkan sensasi segar dan renyah di setiap suapan.

Faruk (30 tahun), pemilik warung tersebut, ditemui pada Minggu pagi, 21 Juni 2026. Dengan ramah ia menceritakan perjalanan hidupnya. "Ayah saya berjualan sate di sini sejak tahun 1995. Setahun kemudian saya lahir, lalu diasuh nenek di Bangkalan, Madura. Mungkin supaya saya tidak kehilangan identitas Madura," ujarnya sambil tersenyum.

Faruk menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Madura. Setelah lulus STM jurusan otomotif, ia sempat bekerja di Surabaya selama dua tahun. Namun panggilan untuk kembali ke keluarga membawanya ke Tempel dan menekuni usaha kuliner. "Saya berjualan soto dari pagi sampai siang. Malam harinya, jongko ini dipakai kakak saya untuk berjualan sate, meneruskan usaha Bapak," tuturnya.

Faruk mengakui bahwa sosok penting di balik kelezatan Soto Madura racikannya adalah sang istri. "Sesungguhnya istri saya yang paling pintar meracik bumbu. Kami berusaha mempertahankan rasa asli Madura. Alhamdulillah banyak yang suka. Mungkin karena rasanya berbeda dari soto yang biasa mereka temui di Jogja," katanya sambil mengiris tipis dada ayam goreng yang akan disajikan kepada pelanggan.

Keberadaan Soto Faruk menjadi bukti bahwa kuliner perantauan dapat tumbuh dan diterima di tengah kuatnya tradisi kuliner lokal. Di sebuah daerah yang dikenal sebagai surga soto bening, semangkuk Soto Madura dengan kuah kaya rempah justru menemukan tempat tersendiri di hati para penikmatnya. (Sadhono Hadi/KIM Tempel Sleman)