Buk Renteng Van Der Wijck, Warisan Infrastruktur Kolonial yang Menjaga Ketahanan Pangan dan Potensi Wisata Edukatif
SLEMAN — Di tengah tantangan ketahanan pangan dan upaya pelestarian cagar budaya, sebuah bangunan peninggalan kolonial di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan bahwa warisan sejarah dapat tetap relevan dengan kebutuhan masa kini. Buk Renteng Van Der Wijck, infrastruktur irigasi peninggalan Hindia Belanda, hingga hari ini masih berfungsi mengalirkan air bagi lahan pertanian warga.
Dibangun sebagai bagian dari sistem pengairan kolonial, Buk Renteng Van Der Wijck dirancang dengan konstruksi batu berlengkungan dan dinding tebal yang mencerminkan teknik bangunan Eropa pada masanya.
Ketahanan struktur tersebut terbukti dari kemampuannya bertahan lintas generasi, bahkan ketika banyak bangunan modern memerlukan perbaikan berkala.
Keberadaan bangunan ini tidak hanya bernilai historis, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung produktivitas pertanian. Aliran air yang stabil dari saluran irigasi ini menjadi salah satu faktor penopang keberlanjutan sawah-sawah di sekitarnya, sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan di tingkat lokal.
Sumitra Danarta Kalurahan Banyurejo, yang kebetulan rumahnya dekat disebelah utara nya menilai Buk Renteng Van Der Wijck sebagai aset penting yang menyatukan nilai sejarah dan manfaat praktis.
“Buk Renteng Van Der Wijck adalah bukti bahwa warisan masa lalu masih memberi manfaat nyata hingga sekarang. Bangunan ini perlu dijaga bersama karena selain memiliki nilai sejarah, juga berperan dalam mendukung pertanian dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Selain fungsi irigasi, Buk Renteng Van Der Wijck menyimpan potensi sebagai destinasi wisata edukatif berbasis sejarah dan lingkungan. Pemandangan alam yang asri, hamparan sawah, serta aliran air yang mengalir di bawah lengkungan bangunan menciptakan daya tarik visual sekaligus ruang belajar terbuka mengenai sejarah infrastruktur, pengelolaan air, dan hubungan manusia dengan alam.
Pengembangan situs ini sebagai wisata edukasi dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai saluran irigasi. Dengan pendekatan pelestarian yang tepat, Buk Renteng Van Der Wijck berpotensi menjadi contoh bagaimana cagar budaya dapat diintegrasikan dengan pembangunan berkelanjutan.
Di tengah arus modernisasi, Buk Renteng Van Der Wijck berdiri sebagai pengingat bahwa infrastruktur yang dibangun dengan visi jangka panjang mampu melampaui zamannya. Warisan kolonial ini tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga simbol kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. (Ratna Zuliastuti KIM SENYUM TEMPEL)