Dari Tempel untuk UMKM Nasional: Percepat Digitalisasi Lewat Sarasehan
Sleman – Upaya memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui transformasi digital terus digencarkan di berbagai daerah. Di Kapanewon Tempel, Sleman, Pemerintah Kapanewon bersama kelompok informasi masyarakat dan mitra swasta mendorong UMKM untuk berani tampil di ruang digital melalui penguatan komunikasi, literasi informasi, dan pemanfaatan media promosi.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Sarasehan Digitalisasi UMKM Kapanewon Tempel yang digelar di Kopi Sormindi, Nglengkong, Sumberrejo, Tempel, Senin, 12 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 20 pelaku UMKM lintas sektor se-Kapanewon Tempel, mulai dari kuliner, jasa, kerajinan hingga usaha berbasis pertanian. Turut hadir pula dalam kesempatan ini Panewu Tempel Dakiri SSos MSI didampingi Danramil Tempel Kapten Edi Widodo memberikan dukungannya.
Dalam sambutannya, Panewu Anom Tempel Eni Yuliani, SE, M.Si mewakili Panewu Tempel, menekankan pentingnya komunikasi dan literasi digital sebagai fondasi penguatan UMKM. Ia mengapresiasi inisiatif KIM Senyum Tempel yang menghadirkan Buletin UMKM “KITA” sebagai media informasi, promosi, dan literasi usaha. “Buletin UMKM KITA adalah contoh nyata bagaimana informasi yang dikelola dengan baik dapat menjadi jembatan antara pelaku usaha dengan konsumen, pasar, dan peluang ekonomi. Ini bukan sekadar media publikasi, tetapi bagian dari strategi penguatan UMKM,” tegas Eni.
Menurut Eni, tantangan UMKM saat ini tidak hanya terletak pada kualitas produk, tetapi juga pada kemampuan membangun citra usaha, mengelola informasi, serta menjangkau pasar yang lebih luas. Melalui Buletin “KITA”, pelaku UMKM didorong untuk berani tampil, dikenal, dan berkembang secara profesional dan berkelanjutan. “UMKM harus mampu menyampaikan siapa mereka, apa produknya, dan apa keunggulannya. Komunikasi yang tepat akan membuat usaha kecil tampil lebih profesional dan dipercaya pasar,” ujarnya.
Sarasehan ini menghadirkan Widarta, Konsultan UMKM dari Telkom Indonesia, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Widarta menegaskan bahwa digitalisasi merupakan kebutuhan mendasar agar UMKM mampu memperluas pasar dan meningkatkan daya saing. “UMKM hari ini tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Mereka harus hadir di ruang digital, memahami perilaku konsumen, memanfaatkan media sosial, marketplace, hingga sistem pembayaran digital. Transformasi digital adalah kunci agar UMKM bisa naik kelas,” kata Widarta.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar bukan pada teknologi, melainkan pada perubahan pola pikir dan konsistensi dalam membangun identitas usaha serta komunikasi dengan pelanggan. “Digitalisasi bukan proses instan. Namun jika dilakukan bertahap dan konsisten, manfaatnya nyata: jangkauan pasar lebih luas, efisiensi meningkat, dan peluang kolaborasi terbuka,” tambahnya.
Penguatan konteks kegiatan ini disampaikan Muryana, Ketua KIM Senyum Tempel, yang menegaskan peran kelompok informasi masyarakat sebagai jembatan antara pelaku UMKM, pemerintah, dan mitra strategis. Ia menyebut sarasehan sebagai bagian dari ikhtiar kolektif membangun ekosistem informasi yang inklusif. “Kami di KIM Senyum Tempel ingin memastikan UMKM memiliki ruang untuk belajar, berbagi, dan dipromosikan secara sehat. Buletin KITA kami hadirkan sebagai media bersama agar UMKM tidak berjalan sendiri, tetapi tumbuh dalam jejaring yang saling menguatkan,” ujar Muryana.
Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah kapanewon dan narasumber dari Telkom Indonesia, serta memotivasi pelaku UMKM agar memanfaatkan sarasehan sebagai bekal pengembangan usaha. “Unsur kemanfaatan dari sarasehan ini besar—mulai dari pengetahuan, jejaring, hingga keberanian untuk memulai transformasi digital. Kami berharap ini menjadi gerakan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Dari sisi peserta, Resi (pelaku usaha Kedai Mona Lumbungrejo Tempel) mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya promosi digital. “Selama ini kami fokus di produk, tapi belum maksimal di promosi digital. Dari sarasehan ini saya jadi paham pentingnya membangun identitas usaha, konsisten di media sosial, dan memanfaatkan marketplace. Ini sangat membantu kami untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Eni Yuliani menegaskan bahwa hasil sarasehan harus ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata, mulai dari peningkatan kapasitas, pendampingan berkelanjutan, hingga penguatan jejaring. “Kami mendorong agar sarasehan ini tidak berhenti pada diskusi semata. Harus ada langkah konkret—pendampingan, peningkatan kapasitas, dan kolaborasi—menuju UMKM Tempel yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing. Dengan kolaborasi yang kuat, UMKM lokal bisa naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas,” pungkas Eni.
(SBD KIM SENYUM TEMPEL)