Dolanan Tradisional Hidup Kembali di Joglo Singodikoro: SD Kadisono Tanamkan Tata Krama Lewat Permainan Anak
SLEMAN — Suasana riang terdengar dari Joglo Singodikoro, Kalurahan Margorejo, Tempel, Sleman, saat belasan siswa kelas 1 dan 2 SD Negeri Kadisono mengikuti kegiatan dolanan anak rutin, Kamis (27/11/2025). Setiap Kamis Pon, anak-anak bermain gatheng, macanan, engklek, hingga cublak-cublak suweng sebagai bagian dari pembelajaran budaya sejak dini.
Kegiatan yang berlangsung di joglo milik warga, R. Chaerul Wardana, ini dirancang untuk menghidupkan kembali permainan tradisional dan menanamkan tata krama Jawa. “Anak-anak sekarang lebih dekat dengan gawai daripada tanah lapang. Lewat dolanan tradisional, kami ingin mengembalikan keceriaan masa kecil sekaligus mengenalkan nilai-nilai budaya Jawa,” ujarnya.
Chaerul menegaskan permainan tradisional membawa nilai karakter yang kuat. “Di gatheng ada ketangkasan, di macanan ada strategi, dan di cublak-cublak suweng ada kebersamaan. Semua ini membentuk karakter tanpa mereka sadari,” tambahnya.
Guru kelas SD Kadisono, Siti Markhamah, mengapresiasi program ini karena memberi ruang belajar yang tidak didapat di kelas. “Anak-anak terlihat lebih percaya diri, lebih sopan, dan lebih kompak setelah mengikuti kegiatan ini. Dolanan tradisional membuat mereka belajar tanpa merasa sedang diajari,” ujarnya. Ia berharap kegiatan ini terus berlanjut sebagai bagian dari pendidikan karakter sekolah.
Kamituwa Margorejo, Anwar Ihsani, SE, juga memberi dukungan penuh. “Ini contoh pelestarian budaya yang lahir dari masyarakat. Dolanan tradisional tidak hanya menghibur, tetapi membangun karakter dan rasa hormat pada budaya sendiri,” katanya.
Digelar bergiliran agar pembelajaran lebih intensif, kegiatan ini selalu dipenuhi tawa anak-anak. Joglo Singodikoro membuktikan bahwa dolanan lama tetap relevan sebagai jembatan pembentuk karakter yang ceria dan berakar pada budaya Jawa.
(sbd kim senyum tempel)