Gelar Macapat Sleman 2025: 17 Kapanewon Meriahkan Panggung Budaya di Gedung Kesenian Denggung
Sleman, 17 November 2025 — Tradisi sastra lisan Jawa kembali mendapat panggung kehormatan di Kabupaten Sleman melalui Gelar Macapat 2025, yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Paguyuban SMSS (Sekar Manunggal Sleman Sembada). Acara yang digelar Senin malam di Gedung Kesenian Denggung ini menghadirkan penyaji macapat dari 17 kapanewon termasuk perwakilan dari Kapanewon Tempel, masing-masing mengirimkan tiga paraga lengkap dengan busana adat surjan atau kejawen jangkep.
Gelaran ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kecintaan masyarakat—terutama generasi muda—terhadap macapat, sebuah warisan adiluhung yang sarat nilai moral, pitutur luhur, serta filosofi kehidupan.
Pada kesempatan tersebut, para peserta mendapatkan pemaparan mendalam dari narasumber Indriyani Voluntiri Aziz, perwakilan MGMP Bahasa Jawa SMP Kabupaten Sleman. Ia menegaskan bahwa macapat bukan hanya karya sastra, tetapi juga wahana pelestarian bahasa ibu dan nilai budaya.
Menurutnya, pemahaman terhadap guru gatra, guru lagu, hingga konteks filosofi tembang merupakan fondasi penting agar tradisi ini tetap hidup. “Macapat itu seperti bibit unggul. Jika diberi ruang tumbuh, ia akan menjadi patuladhan atau contoh yang baik. Tradisi ini perlu terus dipentaskan, bahkan bisa dipopulerkan melalui Youtube atau media sosial agar makin dekat dengan anak-anak muda,” paparnya.
Indriyani menilai bahwa ketika seseorang mulai akrab dengan macapat, tradisi itu akan tumbuh menjadi “tunas budaya” yang menguatkan identitas Jawa.
Dalam materinya, Indriyani juga menekankan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan komunitas budaya.
Keluarga menjadi lingkungan pertama dalam pembiasaan bahasa Jawa. Sekolah kemudian memperkuat pemahaman siswa melalui pembelajaran berjenjang, misalnya: Kinanti untuk kelas 7, Pangkur untuk kelas 8, dan Dhandhanggula untuk kelas 9 “Tidak mudah mengajarkan macapat jika siswa tidak terbiasa mendengar atau menggunakan bahasa Jawa. Karena itu, kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat adalah kunci,” tegasnya.
Komunitas macapat di berbagai kalurahan juga dinilai berperan besar melalui latihan rutin, pentas, dan gelaran budaya yang memperkuat pembiasaan.
Dalam materi bertajuk “Menapa Macapat Hits Tumrap Lare?”, Indriyani menjelaskan bahwa kedekatan emosi melalui bahasa ibu menjadi alasan utama macapat kembali diminati generasi muda.
Kosakata khas Jawa seperti wakul, ketel, atau wijik yang sering muncul dalam tembang menjadi jembatan antara kehidupan modern dan budaya leluhur. “Bahasa adalah pintu kebudayaan. Saat anak-anak memakai bahasa Jawa, meski sederhana, mereka sedang membuka jalan memahami sastra dan identitas Jawa,” terangnya.
Materi ditutup dengan ajakan pelestarian: “Witing tresna jalaran saka kulina. Dimulai dari sering membaca dan mendendangkan macapat, lama-lama tumbuh rasa cinta,” pesan penutupnya.
Sesepuh SMSS, Drs. H. Panggih HM, menyampaikan apresiasi atas semangat para pelaku budaya Sleman. “Macapat bukan sekadar tembang, tetapi jati diri. Lewat acara ini kita tidak hanya nguri-uri tradisi, tetapi juga nyawiji antar generasi,” ujarnya.
Ia berharap gelaran ini menjadi ruang temu antargenerasi sekaligus ajang regenerasi bagi pelajar.
Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Kundha Kabudayan Sleman, Joko Dwi Haryadi,SP,M.Si, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kesinambungan pelestarian budaya Jawa. “Gelar Macapat ini bukan hanya panggung seni, tetapi ruang perjumpaan nilai. Ketika 17 kapanewon hadir bersama malam ini, itu bukti bahwa Sleman memiliki kekuatan budaya yang luar biasa,” ungkapnya.
Ia menambahkan. “Kami berkomitmen agar macapat tetap hidup di sekolah, di komunitas, dan di rumah. Generasi muda harus mengenal macapat sebagai identitas, bukan sekadar warisan.”
Dengan dukungan penuh komunitas macapat dan karawitan se-Sleman, Gelar Macapat 2025 berlangsung meriah sekaligus khidmat. Iringan karawitan dari Kapanewon Berbah memberikan nuansa musikal yang memperkaya suasana panggung.
Acara ini menegaskan bahwa macapat tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang dan semakin relevan di tengah perubahan zaman. Di Sleman, tradisi leluhur ini hidup kembali melalui sinergi antara pemerintah, pendidikan, keluarga, dan komunitas budaya.
SBD – KIM Senyum Tempel