Gerakan Komunitas Libatkan Ayah dan Kader, Upaya Pencegahan Stunting Didorong dari Akar Rumput

  • Sih Budi Daryanto
  • Jan 30, 2026
Sosial Masyarakat

Gerakan Komunitas Libatkan Ayah dan Kader, Upaya Pencegahan Stunting Didorong dari Akar Rumput

SLEMAN - Upaya penanggulangan stunting di Indonesia terus menunjukkan pendekatan yang semakin kolaboratif dan berbasis komunitas. Salah satu praktik baik terlihat dalam kegiatan penguatan peran kader dan keluarga yang digelar pada Jumat (30/1/2026) di Margorejo Tempel Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak bisa bertumpu pada sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan banyak unsur, termasuk figur ayah di dalam keluarga.

Kegiatan yang melibatkan kader pembantu pembina keluarga berencana desa (PPKBD), kader kesehatan, serta unsur pendamping sosial menjadi ruang konsolidasi berbagai program yang selama ini berjalan terpisah. Fokusnya bukan hanya intervensi gizi, tetapi juga perubahan pola asuh, ketahanan keluarga, serta penguatan dukungan sosial di tingkat komunitas.

Koordinator Penyuluhan KB sekaligus Koordinator PPKBD setempat, Drs. Edi Santoso, menjelaskan tema penanggulangan stunting dirangkum dalam lima gerakan inovatif daerah yang diperkuat kebijakan pusat melalui BKKBN. “Intinya gotong royong dan pendekatan berbasis keluarga. Pencegahan stunting tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja, tetapi harus menjadi gerakan bersama dari rumah tangga sampai tingkat komunitas,” ujarnya.

Kelima pendekatan tersebut meliputi GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), GASA (Gerakan Ayah Sayang Anak), serta SATYAGATRA (Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera). Seluruh gerakan menekankan gotong royong, pendampingan keluarga aktif, pemenuhan gizi seimbang berbasis pangan lokal, kolaborasi lintas sektor, serta layanan terpadu sejak perencanaan keluarga hingga tumbuh kembang anak.

Penguatan peran ayah sejalan dengan semangat “Kompak Tenan” — akronim Konsorsium Komunitas Penggerak Ayah Teladan Indonesia. Program ini mendorong sinergi lintas unsur, mulai aparat kewilayahan, pendamping program keluarga harapan (PKH), hingga penyuluh keluarga berencana (KB). Kolaborasi ini dinilai penting untuk memastikan pesan pencegahan stunting sampai langsung ke keluarga sasaran.

Sementara itu, Anwar Ihsani, SE, Kamituwa Margorejo yang mengampu kesejahteraan masyarakat, menilai pendekatan terintegrasi memperkuat kerja kader di lapangan. “Dengan konsep jelas dan dukungan banyak pihak, kader tidak berjalan sendiri. Keluarga merasa didampingi dari berbagai sisi, bukan hanya soal makanan, tetapi juga pola asuh dan perencanaan keluarga,” tuturnya.

Program juga diperkuat bantuan sepasang ayam kepada keluarga sasaran sebagai upaya pemenuhan protein hewani berbasis rumah tangga, disertai edukasi pemeliharaan dan pemanfaatannya bagi konsumsi keluarga.

Pendekatan komprehensif ini menunjukkan percepatan penurunan stunting memerlukan kombinasi intervensi gizi, edukasi, pendampingan keluarga, serta penguatan peran ayah dan komunitas. Di tengah target nasional penurunan stunting, model gotong royong ini menjadi contoh perubahan besar dapat dimulai dari penguatan keluarga tingkat dasar. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)