Gerakan Zakat Fitrah Menguat di Akar Rumput, Warga Diajak Tunaikan Kewajiban Tepat Waktu

  • Sih Budi Daryanto
  • Mar 19, 2026
Sosial Masyarakat , Keagamaan

Gerakan Zakat Fitrah Menguat di Akar Rumput, Warga Diajak Tunaikan Kewajiban Tepat Waktu

SLEMAN — Menjelang akhir bulan Ramadan, semangat berbagi dan kepedulian sosial kembali menguat di berbagai daerah. Salah satunya terlihat dari gerakan pengumpulan Zakat Fitrah yang digagas oleh amil zakat di tingkat padukuhan, sebagai upaya memastikan seluruh warga dapat menunaikan kewajiban sekaligus membantu sesama.

Panitia Amil Zakat Padukuhan Sedogan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, menggelar pengumpulan zakat fitrah pada Kamis (19/3/2026), bertempat di Mushola Sabililla Rosyad Sedogan. Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi tahunan yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas.

Ketua panitia, Hari Widodo, menegaskan bahwa zakat fitrah merupakan instrumen penting dalam membangun solidaritas masyarakat. “Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban individu, tetapi juga wujud nyata kepedulian sosial. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa kebahagiaan Idulfitri dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, panitia menetapkan standar zakat berupa beras minimal 2,5 kilogram per jiwa, atau dapat diganti dengan uang sebesar Rp40.000. Penetapan ini disesuaikan dengan kondisi ekonomi masyarakat setempat serta mempertimbangkan kemaslahatan penerima.

Data panitia menunjukkan capaian yang cukup signifikan. Dari total 522 jiwa wajib zakat, terkumpul beras sebanyak 1.723 kilogram. Seluruh zakat tersebut kemudian ditasyarufkan kepada 139 kepala keluarga (KK) mustahiq, dengan masing-masing menerima sekitar 12,5 kilogram beras.

Hari Widodo menyebut, distribusi yang merata ini diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi penerima. “Kami berupaya agar zakat yang terkumpul bisa dibagikan secara adil dan tepat sasaran. Harapannya, kebutuhan pangan menjelang Idulfitri dapat tercukupi,” katanya.

Ketua LPMkal Sedogan Sutardi menilai bahwa gerakan zakat berbasis komunitas seperti ini memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan sosial. Selain menjangkau penerima secara lebih tepat sasaran, pendekatan lokal juga dinilai mampu meningkatkan partisipasi masyarakat. “Ketika zakat dikelola di tingkat komunitas, transparansi dan kedekatan emosional menjadi kunci. Ini yang membuat kepercayaan publik tetap terjaga,” ungkapnya.

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Sleman, tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia. Tradisi gotong royong dalam pengelolaan zakat fitrah menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan masih menjadi fondasi kuat dalam kehidupan sosial masyarakat.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menunaikan zakat tepat waktu, diharapkan kesenjangan sosial dapat ditekan, sekaligus memperkuat semangat berbagi di bulan suci Ramadan. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)