Hadi Wiyono: Sepenggal Cerita Guru Masa Revolusi Indonesia

  • Sih Budi Daryanto
  • Feb 16, 2026
Features

Guru Pejuang dari Lereng Merapi: Kisah Teladan Hadi Wiyono di Masa Revolusi

SLEMAN — Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tak hanya ditulis oleh tokoh besar di panggung nasional, tetapi juga oleh figur-figur sederhana di desa yang mengabdikan hidup sebagai pendidik sekaligus pejuang. Salah satu kisah itu datang dari sosok guru Muhammadiyah di wilayah utara Yogyakarta, Hadi Wiyono, yang dikenang keluarga dan murid-muridnya sebagai teladan keberanian, disiplin, dan pengabdian tanpa pamrih.

Guru Siang Hari, Pejuang di Malam Hari

Seperti yang pernah dituturkan bapak penulis, Sarjono, ayahnya menjalani dua peran sekaligus pada masa awal kemerdekaan. Pagi hari ia mengajar di sekolah rakyat, sementara malam hari ikut bergerilya melawan pasukan bersenjata yang masih menguasai sejumlah titik strategis di wilayah Yogyakarta. “Setiap malam beliau pamit membawa bambu runcing yang diikat di sepeda tuanya. Pesannya sederhana, kalau sampai pagi tidak pulang, jangan dicari, ikhlaskan saja,” tutur Sarjono mengenang kisah yang ia dengar sejak kecil dari ayahnya.

Cerita itu menggambarkan situasi revolusi pasca-proklamasi, ketika masyarakat sipil ikut terlibat langsung mempertahankan kemerdekaan dengan peralatan seadanya. Markas militer yang tersisa dari pendudukan sebelumnya menjadi sasaran tekanan rakyat, memicu ketegangan bersenjata hampir setiap malam.

Utusan Dakwah Pendidikan

Hadi Wiyono disebut berasal dari wilayah Gamping dan diutus oleh organisasi Muhammadiyah untuk merintis sekolah di kawasan Tempel. Ia tercatat sebagai pengajar di SD Muhammadiyah Domban 1, lembaga pendidikan yang berdiri sejak 1916—jauh sebelum Indonesia merdeka.

Jejak sejarah sekolah itu menunjukkan bahwa jaringan pendidikan masyarakat telah lebih dulu tumbuh sebagai bagian dari gerakan pencerahan sosial. Di masa kolonial, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga agen perubahan.

Seorang mantan muridnya pernah menceritakan kesan mendalam tentang kedisiplinan sang guru. “Beliau selalu menanamkan pentingnya datang tepat waktu, bahkan sebelum acara dimulai. Itu menjadi prinsip hidup saya sampai sekarang,” ujar mantan murid tersebut dalam sebuah pertemuan warga.

Intuisi tentang Masa Depan Jawa

Selain dikenal tegas, Hadi Wiyono juga diingat karena ucapannya yang dianggap visioner. Ia pernah berkata kepada murid-muridnya bahwa suatu hari tanah Jawa akan dipenuhi jalan halus dan jalur panjang seperti rantai—yang kemudian dimaknai sebagai jalan raya dan rel kereta. "Arep tekane mongso neng tanah Jawa kencar kencar, dalan alus lan kalungan rante dowo," demikian kenang mantan muridnya.

Ucapan itu diingat turun-temurun sebagai bukti bahwa seorang guru desa pun dapat memiliki pandangan jauh ke depan tentang kemajuan peradaban.

Gugur dalam Tragedi 1948

Pengabdian Hadi Wiyono berakhir tragis. Pada malam Desember 1948, rumahnya didatangi sekelompok orang bertopeng yang merampok dan membunuhnya. Peristiwa itu terjadi di kediamannya di wilayah Cungkuk Margorejo Tempel Sleman. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Domban, tempat keluarga besarnya berasal. Pada nisan tertulis tanggal wafat: 18 Desember 1948.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa masa revolusi tidak hanya menyimpan kisah heroik di medan perang, tetapi juga tragedi di lingkungan sipil.

Warisan Pendidikan Empat Generasi

Semangat pengabdian Hadi Wiyono tidak berhenti pada dirinya. Empat dari lima anaknya meneruskan profesi sebagai guru, bahkan mengajar hingga luar daerah seperti Bengkulu dan Sulawesi Tenggara. Kini, keturunannya telah mencapai generasi keempat pendidik.

Penulis kisah keluarga ini, Herlambang dari komunitas informasi masyarakat KIM Senyum Tempel, menilai keteladanan leluhurnya bukan sekadar nostalgia keluarga, melainkan inspirasi publik.

“Beliau mungkin tidak tercatat di buku sejarah nasional, tetapi nilai perjuangannya hidup dalam kami. Itu yang ingin kami teruskan,” ujarnya.

Teladan Sunyi dalam Sejarah Bangs

Kisah Hadi Wiyono menunjukkan bahwa fondasi kemerdekaan Indonesia dibangun bukan hanya oleh tokoh terkenal, melainkan juga oleh guru desa yang mengajar dengan kapur di tangan dan bambu runcing di bahu. Mereka adalah pahlawan sunyi—tanpa pangkat, tanpa sorotan—yang menjadikan pendidikan sebagai jalan perjuangan.

Dalam konteks kekinian, cerita seperti ini menjadi pengingat bahwa semangat pengabdian, keberanian moral, dan dedikasi terhadap generasi muda tetap relevan bagi bangsa yang terus bergerak maju. (Herlambang KIM SENYUM TEMPEL)