Kader Bina Keluarga Lansia (BKL) Konsolidasikan Gerakan Pendampingan Berbasis Komunitas

  • Sih Budi Daryanto
  • Jan 07, 2026
Kesehatan , Sosial Masyarakat

Kader Bina Keluarga Lansia (BKL) Konsolidasikan Gerakan Pendampingan Berbasis Komunitas

SLEMAN – Upaya memperkuat kualitas hidup lanjut usia terus digerakkan dari tingkat komunitas. Pada Selasa (6/1/2026), kader Bina Keluarga Lansia (BKL) dari RT 01 hingga RT 04 Padukuhan Ngentak Kalurahan Pondokrejo Tempel Sleman mengikuti pertemuan koordinasi yang menjadi bagian dari penguatan pendampingan lansia berbasis keluarga dan lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 12.30 WIB tersebut mempertemukan para kader BKL dalam forum BKL “Cemara” Ngentak Pondokrejo. Bertempat di rumah salah satu kader di RT 04, pertemuan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan ruang konsolidasi untuk merespons tantangan nyata yang dihadapi para lansia di tingkat masyarakat.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat, para kader membahas berbagai isu mulai dari pendampingan kesehatan dasar, pencegahan isolasi sosial pada lansia, hingga penguatan peran keluarga sebagai sistem pendukung utama. Forum ini juga dimanfaatkan untuk berbagi praktik baik mengenai kegiatan sederhana yang dapat menjaga lansia tetap aktif, mandiri, dan merasa dihargai di lingkungan sekitarnya.

Koordinator BKL Cemara Ngentak, Ibu Jamiyatun Mufidah, menegaskan bahwa keberhasilan program BKL sangat ditentukan oleh kekompakan kader di lapangan. “Kita bekerja dari lingkup kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Dengan koordinasi yang baik antar-RT, pendampingan kepada lansia bisa lebih merata dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tantangan pendampingan lansia saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga mental dan sosial. Banyak lansia membutuhkan ruang interaksi, perhatian, serta aktivitas yang membuat mereka tetap merasa bermakna dalam keluarga dan masyarakat. “Kader hadir bukan sebagai pengganti keluarga, melainkan sebagai penguat—menghubungkan keluarga, lingkungan, dan program pemerintah agar lansia tetap terjaga kualitas hidupnya,” kata Jamiyatun.

Lebih lanjut, Jamiyatun menyebut forum pertemuan kader seperti ini penting untuk menjaga semangat relawan. Menurutnya, kader di tingkat RT sering bekerja dalam keterbatasan sumber daya, namun memiliki kedekatan emosional dengan warga. “Dari pertemuan ini, kami saling belajar tentang langkah-langkah sederhana namun berdampak, seperti kunjungan rutin, kegiatan bersama, dan mendorong keluarga agar lebih aktif mendampingi orang tua mereka,” tambahnya.

Program Bina Keluarga Lansia (BKL) sendiri merupakan bagian dari agenda nasional untuk memperkuat ketahanan keluarga di tengah meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut. Pendekatan berbasis komunitas dipandang strategis karena memungkinkan pendampingan yang lebih personal, adaptif terhadap kondisi sosial setempat, serta berkelanjutan.

Pertemuan kader dari RT 01 hingga RT 04 di Ngentak Pondokrejo ini menunjukkan bahwa inisiatif sederhana di tingkat warga dapat menjadi fondasi penting bagi pembangunan manusia. Dengan memperkuat jejaring relawan dan menyatukan visi pendampingan yang humanis, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong terciptanya lingkungan yang lebih ramah lansia di berbagai daerah.

Di tengah perubahan demografi Indonesia, peran kader BKL semakin relevan, bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai agen sosial yang menjaga nilai kebersamaan lintas generasi. Dari ruang-ruang pertemuan sederhana di masyarakat, komitmen untuk memuliakan lansia terus tumbuh, menjadi inspirasi bahwa pembangunan yang inklusif dimulai dari keluarga dan komunitas.

(SBD KIM SENYUM TEMPEL)