KELUARGA PEDULI JIWA PULIH

  • Sih Budi Daryanto
  • Oct 09, 2025
Kesehatan

Keluarga Peduli, Jiwa Pulih: Mahasiswa Psikologi Universitas Mercu Buana dan Tokoh Masyarakat Belajar Bareng tentang Penyakit Kejiwaan

Tempel, 8 Oktober 2025, Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental, mahasiswa Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta bekerja sama dengan tokoh masyarakat Pondokrejo Kapanewon Tempel menggelar kegiatan “Belajar Bareng tentang Penyakit Kejiwaan” dengan tema Keluarga Peduli, Jiwa Pulih, bertempat di Balai Padukuhan Glagah Ombo Kalurahan Pondokrejo Kapanewon Tempel, Rabu (8/10).

Kegiatan ini diikuti oleh puluhan warga dari berbagai kalangan, mulai dari perangkat kalurahan, kader kesehatan, hingga perwakilan karang taruna. Acara berlangsung hangat dan interaktif, menghadirkan para mahasiswa psikologi sebagai narasumber sekaligus fasilitator dalam sesi diskusi dan simulasi edukatif.

Dalam sambutannya, Panewu Tempel, Dakiri, S.Sos., menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa yang peduli terhadap isu kejiwaan di masyarakat. “Kesehatan mental sering kali terabaikan, padahal dampaknya sangat luas. Kegiatan seperti ini menjadi penting agar keluarga memahami tanda-tanda gangguan kejiwaan dan mampu memberikan dukungan yang tepat,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa Psikologi Universitas Mercu Buana, Rizky Amalia, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat dan penelitian kampus dalam bidang psikologi klinis. “Kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa gangguan kejiwaan bukan aib, melainkan kondisi yang bisa diobati dan dipulihkan dengan dukungan keluarga dan lingkungan,” terangnya.

Acara diisi dengan berbagai kegiatan menarik seperti penyuluhan interaktif, role play tentang penanganan awal gangguan kecemasan dan depresi, serta sesi tanya jawab terbuka antara peserta dengan mahasiswa. Para peserta tampak antusias menyampaikan berbagai pengalaman dan pertanyaan seputar kesehatan mental yang sering dijumpai di lingkungan mereka.

Tokoh masyarakat setempat, Basyori, menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini sangat bermanfaat untuk mengurangi stigma negatif terhadap penderita gangguan jiwa.“Sering kali orang dengan gangguan kejiwaan justru dijauhi. Padahal mereka butuh dukungan kita. Dengan ilmu yang dibagikan mahasiswa, masyarakat jadi lebih paham cara menyikapi,” ujarnya.

Di akhir kegiatan, para peserta diajak membuat komitmen bersama untuk menjadi “keluarga peduli kesehatan mental” di lingkungannya masing-masing. Mahasiswa juga membagikan booklet edukatif berisi informasi mengenai tanda-tanda gangguan kejiwaan serta langkah-langkah penanganan awal sebelum mendapatkan pertolongan profesional.

Kegiatan “Belajar Bareng tentang Penyakit Kejiwaan” ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun masyarakat yang lebih peduli, empatik, dan sadar pentingnya kesehatan jiwa. Sejalan dengan tema yang diusung, ketika keluarga peduli — jiwa pun akan pulih. (sbd KIM Tempel)