Kerajinan Hidup, Tunggul Anggrek: Kreasi Endri dari Sumberejo Tempel Sleman

  • Sih Budi Daryanto
  • Nov 05, 2025
Features

Kerajinan Hidup, Tunggul Anggrek: Kreasi Endri dari Sumberejo Tempel Sleman

Tempel- Ditemui pada Rabu (5/11/2025) di sebuah rumah sederhana di Padukuhan Tegal, Desa Sumberejo, Kecamatan Tempel, tampak deretan anggrek berwarna lembut bermekaran di atas potongan batang pakis yang disusun artistik.

Di sanalah Endri, seorang ibu muda sekaligus pemilik usaha Griya Anggrek Tegal, menyalurkan hobi sekaligus rezekinya lewat kerajinan hidup berbahan tunggul alami.

Alih-alih memajang tanaman di rak atau pot gantung, Endri justru menjadikan seluruh teras dan halamannya sebagai galeri terbuka.

“Anggrek-anggrek yang saya tanam pada tunggul alami ini justru tumbuh lebih subur dan cepat berbunga,” ujarnya sambil memperlihatkan salah satu karyanya — sebuah tunggul pakis setinggi 150 sentimeter yang ditumbuhi 12 batang anggrek Dendrobium dengan bunga ungu cerah.

Tunggul-tunggul pakis itu tersusun di beberapa sudut halaman. Tiap batang dipasangi 10 hingga 15 tanaman anggrek dewasa yang tumbuh lebat. Keindahannya membuat halaman rumah tampak seperti pameran seni botani.

“Banyak penghobi anggrek yang tertarik dengan hiasan ini. Mereka datang melihat, berfoto, sekaligus membeli tanaman,” tutur Endri dengan senyum bangga.

Endri telah lama menekuni dunia anggrek. Saat pandemi Covid-19, usahanya sempat booming karena banyak orang mulai menghiasi rumah dengan tanaman hias. Kini, meski tren telah melandai, usahanya tetap bertahan stabil.

Lingkungan rumah Endri tampak rapi, bersih, dan hijau. Di sepanjang dinding menuju greenhouse belakang rumah, puluhan pot anggrek berjajar indah. Di tempat inilah, ia menawarkan ratusan anggrek dewasa jenis Dendrobium dan Phalaenopsis yang sedang berbunga.

Selain itu, ia juga memiliki kebun pembesaran di wilayah Seyegan, Tempel, yang menjadi sumber stok tanaman untuk dipasarkan kembali.

Perjalanan bisnis bunga tak selalu mudah. Endri sempat mencoba membudidayakan anggrek dari bibit botol hingga dewasa, namun cara itu memerlukan waktu dan lahan besar.

“Untuk skala bisnis, menanam dari bibit itu berat karena modalnya mengendap lama. Anggrek juga paling laris saat sedang berbunga,” jelasnya.

Kini ia memilih strategi baru — membeli anggrek siap berbunga untuk dirawat dan dipajang. “Memang modalnya lebih besar, tapi perputarannya cepat,” tambahnya.

Dengan cara itu, Griya Anggrek Tegal tetap hidup, bahkan menjadi rujukan bagi pecinta anggrek di wilayah Tempel dan sekitarnya.

Bagi Endri, menanam anggrek bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk kecintaan pada keindahan dan ketekunan.

Dari tangannya yang rapi dan telaten, tunggul-tunggul pakis yang semula mati kini menjelma karya hidup — menumbuhkan bunga, harapan, dan penghidupan. “Berawal dari hobi, ternyata bisa jadi sumber rezeki. Yang penting tekun dan mencintai apa yang kita rawat,” ucapnya sambil menatap deretan kelopak yang bergoyang diterpa angin.

Di antara hijau sawah dan aroma pagi Sumberejo, karya-karya Endri seakan berbisik pelan:

keindahan sejati tumbuh dari ketulusan merawat yang hidup.

( Laporan oleh: Sadhono Hadi / KIM Senyum Tempel)