Khoirul Anwar, Penyuplai Omega 3 dari Kolong Jembatan
Subuh belum lama berlalu ketika aroma ikan pindang menyeruak dari arah jembatan Kali Krasak, Pasar Tempel, Sleman. Udara pagi yang lembap berpadu dengan kesibukan tangan-tangan lincah menata keranjang bambu berisi ikan segar. Di antara riuh pasar yang mulai menggeliat, tampak seorang pria dengan senyum tenang dan sorot mata ramah — Khoirul Anwar, sosok yang dikenal banyak orang sebagai penyuplai Omega 3 dari kolong jembatan.
Setiap malam sekitar pukul satu dini hari, Khoirul sudah menunggu kiriman ikan dari dua arah: pindang dari Juwana dan bandeng dari Lamongan. Di rumahnya di Gundengan Kidul, Margorejo Tempel , ia menyiapkan uang tunai dan menuntaskan transaksi dengan para pengirim. “Begitu datang, langsung saya bayar. Nanti saya pilih mana yang paling segar buat dibawa ke pasar,” tuturnya sembari menepuk lembut keranjang ikan yang baru diturunkan.
Setelah salat subuh, ia berangkat menuju Pasar Tempel. Tidak menempati kios resmi, Khoirul justru memilih berdagang di bawah jembatan — tempat yang menjadi denyut kehidupan pagi bagi warga sekitar. Di sanalah ia menata dagangannya di bak terbuka mobil pick-up tua yang setia menemaninya sejak belasan tahun lalu.
“Tempat ini ramai sejak fajar. Orang cari ikan segar sebelum berangkat kerja, atau pedagang warung yang kulakan buat jualan,” katanya. Suaranya tenang, tapi matanya terus memperhatikan pembeli yang datang satu per satu.
Ditemui Minggu, 2 Nopember 2025, Khoirul mengatakan setiap hari, ia membawa sekitar 50 ikat ikan. “Satu ikat itu 12 sampai 20 keranjang bambu. Satu keranjang ada dua atau tiga ekor ikan. Kalau dihitung kasar, ya sekitar dua ribu ekor,” ujarnya sambil tertawa kecil. Di sela kesibukannya, ia tak pernah terlihat terburu-buru. Setiap transaksi disertai sapaan hangat dan senyum tulus.
Menjelang pukul delapan pagi, ikan-ikannya hampir habis. Beberapa pembeli terakhir adalah pedagang kecil dan ibu rumah tangga yang datang membawa kantong belanja kain. “Saya senang kalau mereka puas. Rezeki itu bukan cuma uang, tapi juga rasa percaya dari orang lain,” ujarnya lirih.
Saat ditanya apa dukanya berdagang ikan setiap hari, Khoirul menggeleng pelan. “Tidak ada dukanya. Saya malah banyak ketemu orang baik. Jadi harus saya layani dengan baik juga,” katanya.
Bagi banyak orang, kolong jembatan hanyalah tempat singgah atau lewat. Tapi bagi Khoirul Anwar, tempat itu adalah sumber kehidupan — tempat ia mengalirkan rezeki, menyuplai protein dan Omega 3 bagi ratusan keluarga setiap hari.
Ketika matahari mulai naik dan pasar kian ramai, Khoirul menutup bak mobilnya yang mulai kosong. Hari itu ia kembali pulang dengan hati tenang. “Alhamdulillah, habis lagi,” ujarnya singkat. Senyum di wajahnya menegaskan satu hal: dari kolong jembatan pun, cita-cita untuk hidup layak dan memberi manfaat bisa tumbuh setinggi langit.
Penulis: Sadhono Hadi / KIM Senyum Tempel