Klepon NCUUS dari Turcanan, Jejak Manis yang Menembus Sleman dan Jogja

  • Sih Budi Daryanto
  • Nov 30, 2025
Features

Klepon Ncuus dari Turcanan, Jejak Manis yang Menembus Sleman dan Jogja

 

Di Dusun Turcanan Wonokerso, Kelurahan Lumbungrejo, Tempel Sleman, aroma tradisi masih mengepul setiap dini hari. Heni Mujiati, perempuan ulet yang telah menekuni dunia kuliner sejak 2018, menjaga warisan leluhur melalui kue tradisional klepon. Kue bulat dengan gula merah cair di dalamnya dan parutan kelapa di luar ini, akrab disebut warga sebagai Klepon Ncuus, nama yang lahir dari sensasi “muncrat”-nya gula Jawa ketika dimakan.

Ditemui tanggal 29/11/2025, Heni bercerita, “Setiap hari saya memasak klepon pada pukul 02.00 dini hari, dibantu anggota keluarganya. Rata-rata 700 butir klepon ia produksi untuk dititipkan ke pedagang kue di kawasan Tempel dalam kemasan empat butir. Namun pesanan bisa melonjak drastis: dari wilayah Sleman hingga Yogyakarta, pesanan khusus biasanya sampai 1.000 hingga bahkan 4.000 butir dalam satu hari”.

Klepon bagi masyarakat Jawa bukan sekadar kudapan. Ia menyimpan filosofi sederhana: meski tampak biasa di luar, bagian dalamnya menyimpan kemanisan. Filosofi itu diterjemahkan Heni menjadi moto Klepon Ncuus:

“Muncrat di dalam, kesederhanaan dan perjuangan hidup akan berbuah manis.” , sedangkan “Warna hijau yang melambangkan kebaikan, namun saya siap memenuhi permintaan warna lain sesuai keinginan pelanggan”, tambahnya.

Pemasaran Klepon Ncuus berkembang lewat dari mulut ke mulut dan dukungan media sosial. Kepercayaan pelanggan terus terjaga karena pembayaran tertib dan pesanan yang selalu berulang. Lonjakan tertinggi justru terjadi pada masa pandemi Covid-19, saat permintaan makanan rumahan naik signifikan.

Dengan bahan baku sederhana—tepung ketan, tepung beras, gula Jawa, dan kelapa parut, Heni menjaga kualitas rasa yang tetap otentik. Dari dapur kecilnya di Turcanan, klepon buatannya kini menjadi favorit di berbagai wilayah Sleman dan Yogyakarta.

(Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)