Kolaborasi Jadi Kunci, Angka Stunting di Pondokrejo Turun Drastis

  • Sih Budi Daryanto
  • Jun 05, 2026
Ekonomi , Sosial Masyarakat

SLEMAN — Upaya percepatan penurunan stunting di tingkat desa terus menunjukkan hasil positif. Melalui forum Rembug Stunting yang digelar di Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Jumat (5/6/2026), berbagai pemangku kepentingan kembali memperkuat komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan program pencegahan stunting sekaligus menyusun langkah strategis menuju generasi yang lebih sehat dan berkualitas.

Kegiatan yang dihadiri pemerintah kalurahan, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), pendamping kalurahan, tenaga kesehatan, PKK, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus perencanaan program penanganan stunting yang lebih terintegrasi.

Lurah Pondokrejo, R. Widayatma, SE menyampaikan bahwa capaian penurunan angka stunting di wilayahnya merupakan hasil kerja sama seluruh elemen masyarakat yang selama ini terlibat aktif dalam berbagai program kesehatan keluarga dan anak.

“Penurunan angka stunting yang terjadi di Pondokrejo bukan hasil kerja satu pihak saja. Ini merupakan buah dari kolaborasi pemerintah kalurahan, tenaga kesehatan, kader, PKK, dan masyarakat. Kami berharap capaian ini dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan sehingga angka stunting ke depan bisa semakin ditekan,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting menjadi indikator penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, sinergi lintas sektor perlu terus diperkuat agar setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dalam kesempatan yang sama, Pendamping Dana Desa, Ariyanto Wibowo, menegaskan bahwa program penurunan stunting masih menjadi salah satu prioritas penggunaan Dana Desa tahun 2027. Meski menghadapi tantangan keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat, komitmen untuk mendukung program kesehatan masyarakat tetap menjadi perhatian utama.

“Dana Desa tahun depan tetap diarahkan untuk mendukung upaya penurunan stunting. Walaupun anggaran yang tersedia lebih terbatas, program-program yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat harus tetap menjadi prioritas,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa pelaksanaan Rembug Stunting merupakan amanat yang wajib dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari proses perencanaan pembangunan desa yang partisipatif dan berbasis kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Ahli Gizi dari Puskesmas Tempel II, Astried Eka Candra F., mengingatkan bahwa stunting bukan semata-mata persoalan ekonomi keluarga. Menurutnya, faktor pola asuh, pola hidup sehat, kualitas lingkungan, serta sanitasi keluarga memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak.

“Masih ada anggapan bahwa stunting hanya terjadi pada keluarga kurang mampu. Faktanya tidak demikian. Ada keluarga dengan kondisi ekonomi baik, memiliki kendaraan, bahkan penghasilan yang cukup, tetapi anaknya tetap mengalami stunting karena pola asuh, asupan gizi, maupun kondisi lingkungan yang kurang mendukung,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan, dilanjutkan dengan pemenuhan gizi yang baik, pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan keluarga.

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan musyawarah bersama warga dan tokoh masyarakat untuk menyerap berbagai masukan serta menyusun langkah-langkah prioritas yang akan dijalankan pada tahun mendatang.

Rembug Stunting Pondokrejo menunjukkan bahwa keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran, tetapi juga pada kekuatan kolaborasi dan kesadaran bersama. Di tengah upaya nasional mewujudkan generasi emas Indonesia, forum-forum partisipatif semacam ini menjadi fondasi penting untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh hak yang sama untuk tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing di masa depan.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)