Kolaborasi Jadi Kunci, Daerah Perkuat Rembug Stunting untuk Selamatkan Generasi Masa Depan

  • Sih Budi Daryanto
  • May 07, 2026
Kesehatan

Kolaborasi Jadi Kunci, Daerah Perkuat Rembug Stunting untuk Selamatkan Generasi Masa Depan

Sleman - Upaya percepatan penurunan stunting terus diperkuat di berbagai daerah melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat akar rumput. Salah satu langkah strategis yang kini semakin dioptimalkan adalah forum rembuk stunting, yakni ruang bersama untuk memetakan persoalan, menyatukan data, dan menyusun langkah penanganan yang lebih terarah.

Dalam forum rembuk stunting yang digelar Kamis (7/5/2026) di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo Tempel Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah kalurahan bersama jajaran puskesmas, kader kesehatan, dan lintas sektor menegaskan bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan semata. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh unsur masyarakat, mulai dari keluarga, lingkungan, hingga pemangku kebijakan.

“Rembug stunting bukan sekadar agenda rutin, tetapi forum penting untuk menyamakan persepsi dan memperkuat langkah bersama dalam mencegah lahirnya generasi yang mengalami hambatan tumbuh kembang,” ujar Sartika, S.Gz dari Puskesmas Tempel Satu dalam pemaparan materi kegiatan tersebut.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa tantangan stunting masih memerlukan perhatian serius. Di wilayah Kapanewon Tempel misalnya, persentase kasus stunting pada 2025 tercatat mencapai 4 persen, dengan sejumlah wilayah mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Kalurahan Margorejo menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus yang cukup tinggi, yakni 29 balita atau sekitar 5,29 persen dari total sasaran.

Meski demikian, perkembangan awal tahun 2026 menunjukkan sinyal positif. Tren stunting di wilayah kerja Puskesmas Tempel I mengalami penurunan bertahap dari Januari hingga Maret 2026. Jumlah balita yang masuk kategori stunting turun dari 116 kasus pada Januari menjadi 86 kasus pada Maret. Penurunan ini dinilai sebagai hasil dari penguatan pemantauan balita, intervensi gizi, serta peningkatan edukasi keluarga.

Dalam diskusi juga terungkap bahwa penyebab stunting sangat kompleks dan saling berkaitan. Faktor dominan yang ditemukan antara lain asupan gizi yang belum memadai, tingginya paparan asap rokok dalam keluarga, riwayat ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK), hingga kondisi sosial ekonomi keluarga.

Ditambahkan oleh Sartika, validasi data menjadi langkah krusial agar penanganan lebih tepat sasaran. Karena itu, kerja sama lintas sektor antara pemerintah kalurahan, kader posyandu, puskesmas, dan masyarakat terus diperkuat agar intervensi tidak berhenti pada pendataan semata. “Pencegahan stunting harus dimulai dari keluarga. Edukasi kepada orang tua, terutama terkait pola makan, kesehatan ibu hamil, sanitasi, dan lingkungan sehat menjadi kunci utama,” tambah Sartika.

Pemerintah sendiri terus mendorong penanganan stunting sebagai agenda prioritas nasional. Selain menyangkut kesehatan anak, stunting juga berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan, mulai dari kemampuan belajar hingga produktivitas ekonomi.

Melalui penguatan rembuk stunting di tingkat komunitas, daerah diharapkan tidak hanya mampu menurunkan angka stunting secara statistik, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa investasi terbesar bangsa sesungguhnya terletak pada kualitas generasi mudanya.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)