Konsep Lumbung Mataraman Diterapkan Petani Tempel, Sleman
Konsep “Lumbung Mataraman” merupakan wujud kearifan lokal Yogyakarta dalam menjaga ketahanan pangan yang kini kembali dihidupkan. Konsep ini berupa sistem pertanian terpadu yang mencakup pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan, serta pengembangan UMKM berbasis rumah tangga dan kelompok tani. Filosofi utamanya adalah “nandur sing dipangan, mangan sing ditandur” — menanam apa yang dimakan, dan memakan apa yang ditanam.
Selain berfungsi sebagai lumbung hidup keluarga, Lumbung Mataraman juga menjadi sarana edukasi, agrowisata, serta penguatan ekonomi lokal masyarakat desa.
Konsep ini diterapkan secara konsisten oleh Tri Supatno, seorang petani dari Dusun Domban, Mororejo, Tempel, Sleman. Saat ditemui di rumahnya pada 8 Januari 2026, Tri Supatno memperlihatkan kegiatan pembibitan padi, edamame (kedelai Jepang), serta peternakan entok dan budidaya lele.
“Saya bisa panen sayur setiap hari, pepaya California setiap minggu, padi dan lele setiap dua sampai tiga bulan, serta mangga dan manggis setiap tahun,” ujarnya. Setiap hari pukul 04.00 pagi, ia membawa hasil panen ke kios kecil miliknya di Pasar Jalan Kaliurang. Sekitar pukul 06.00, ia sudah kembali ke rumah untuk melanjutkan pekerjaan di kebun dan sawah.
Tri Supatno dikenal sebagai petani yang cerdas dalam mengelola hasil panen. Dagangannya sudah dikemas dalam ukuran kecil, sehingga pembeli tidak perlu menimbang atau menawar harga. Pelanggannya sebagian besar adalah pedagang, dan biasanya sebelum pukul 06.00 dagangan sudah habis terjual. “Kalau ada sisa, saya tinggal saja. Tetangga pedagang biasanya membantu menjaga dan menjualkan,” tambahnya.
Bahkan saat panen lele, ikan-ikan tersebut sudah dibersihkan dan dikemas rapi dalam ukuran kecil. Cara ini memudahkan pembeli, terutama ibu rumah tangga, karena tinggal mengolahnya tanpa repot membersihkan.
Pola kerja Tri Supatno menunjukkan bahwa Lumbung Mataraman bukan sekadar konsep, tetapi benar-benar dapat diterapkan secara nyata untuk menciptakan kemandirian pangan, efisiensi usaha, dan kesejahteraan keluarga petani.
(Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)