Koperasi Desa Merah Putih Didorong Jadi Motor Ekonomi Warga, Sosialisasi di Sleman Soroti Kemandirian Desa

  • Sih Budi Daryanto
  • Jan 28, 2026
Ekonomi , Sosial Masyarakat

Koperasi Desa Merah Putih Didorong Jadi Motor Ekonomi Warga, Sosialisasi di Sleman Soroti Kemandirian Desa

SLEMAN — Upaya memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis desa kembali digelorakan melalui sosialisasi KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) yang digelar di Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Sleman pada Rabu (28/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari dorongan membangun kemandirian ekonomi desa melalui model koperasi modern yang inklusif, transparan, dan berbasis potensi lokal. Bertempat di ruang pertemuan kalurahan, acara dihadiri perangkat desa, tokoh masyarakat, serta unsur penggerak ekonomi warga.

Sosialisasi KDMP Merah Putih menekankan pentingnya desa sebagai fondasi struktur ekonomi nasional. Dalam forum tersebut dipaparkan bahwa koperasi desa dapat mengambil peran pada sektor distribusi hasil pertanian, penguatan UMKM, penyediaan bahan pokok, hingga layanan keuangan mikro yang sehat. Konsep “Merah Putih” yang diusung bukan sekadar simbolik, tetapi merepresentasikan semangat gotong royong, kedaulatan ekonomi, dan keberpihakan pada pelaku usaha kecil

Dalam sambutannya, Lurah Margorejo juga menekankan bahwa pemerintah desa memiliki peran penting sebagai fasilitator, bukan pengendali koperasi. “Pemerintah desa harus memastikan tata kelola yang sehat, transparansi, dan akuntabilitas. Tapi koperasi tetap milik anggota. Justru partisipasi warga itulah ruhnya,” kata Abdul Azis. Ia menambahkan, sosialisasi ini menjadi langkah awal membangun kesadaran kolektif bahwa koperasi modern memerlukan manajemen profesional tanpa meninggalkan nilai kebersamaan.

Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh. Ridwan, SH, menegaskan juga bahwa koperasi desa tidak lagi bisa dipandang sebagai lembaga simpan pinjam semata, melainkan sebagai instrumen strategis penguatan ekonomi warga dari hulu hingga hilir. “Koperasi hari ini harus naik kelas. Ia bukan hanya wadah transaksi, tetapi ruang kolaborasi, ruang tumbuh usaha kecil, dan penopang ketahanan ekonomi desa. KDMP ini kami dorong menjadi model koperasi yang adaptif terhadap tantangan zaman,” ujarnya di hadapan peserta.

Ketua KDMP Margorejo, Wahyu Prihatmoko dalam kegiatan ini menilai, kebangkitan koperasi desa merupakan jawaban atas ketimpangan ekonomi yang selama ini masih terasa antara wilayah perkotaan dan pedesaan. “Kalau desa kuat secara ekonomi, maka kota tidak akan menanggung beban berlebih. Arus urbanisasi bisa ditekan, dan kesejahteraan tumbuh dari wilayah asal warga sendiri,” ungkapnya.

Hal yang juga disoroti dalam kegiatan tersebut adalah perlunya keterlibatan generasi muda desa. Transformasi koperasi ke arah digital, pencatatan keuangan yang rapi, hingga pemasaran berbasis teknologi dinilai membuka ruang peran bagi kalangan muda. Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah citra koperasi yang selama ini kerap dianggap konvensional menjadi lembaga ekonomi yang dinamis dan relevan.

Sosialisasi KDMP Merah Putih di Margorejo menunjukkan bahwa penguatan ekonomi nasional tidak selalu dimulai dari pusat-pusat bisnis besar, melainkan dari ruang pertemuan desa, dari diskusi warga, dan dari kesadaran kolektif membangun kemandirian. Di tengah tantangan ekonomi global, model koperasi desa seperti ini dinilai mampu menjadi penyangga stabilitas sosial sekaligus membuka peluang kesejahteraan yang lebih merata.

Dengan semangat gotong royong yang diperbarui melalui manajemen modern, koperasi desa kembali menemukan relevansinya — bukan sekadar warisan sistem ekonomi lama, tetapi fondasi masa depan ekonomi Indonesia.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)