Kukuh Prasetyo, Anak Muda Yang Sukses Lewat Batik Merdikorejo

  • Sih Budi Daryanto
  • Nov 23, 2025
Features

Kukuh Prasetyo, Anak Muda Yang Sukses Lewat Batik Merdikorejo

Di Padukuhan Sokamartani, Kalurahan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Kukuh Prasetyo, yang baru berusia 30 tahun menunjukkan bahwa batik tidak hanya milik generasi tua. Kukuh adalah Ketua Kelompok Batik Merdiko, yang sejak tahun 2016 memilih jalur hidupnya sebagai pembatik. Ketika ditemui pada 22 November 2025, Kukuh sedang tekun mengerjakan proses mewarnai pada puluhan lembar kain, sebuah pekerjaan yang menurutnya memerlukan ketelitian dan kesabaran.

Kukuh tidak bekerja sendiri. Ia dibantu beberapa ibu, para anggota kelompok batik, untuk mengerjakan pesanan. “Di kelompok kami tidak ada sistem karyawan. Semua anggota bekerja bersama sesuai perannya masing-masing,” jelasnya. Saat ini, kelompok tersebut beranggotakan sekitar dua puluh orang, mayoritas ibu rumah tangga dari berbagai usia, bahkan ada yang masih kuliah. “Hanya dua anggota laki-laki, sisanya perempuan,” ujarnya tersenyum.

Mereka rutin mengadakan pertemuan bulanan untuk memeriksa stok, mengevaluasi pasar, membahas peluang pameran, dan menyusun rencana produksi. Sebagai perekat kebersamaan, kelompok ini juga mengadakan arisan di antara anggota.

Karya batik yang diproduksi Kelompok Batik Merdiko cenderung menampilkan corak dan warna non-konvensional, memadukan keberanian warna dengan kreativitas desain. Tren dan pesanan konsumen sangat mempengaruhi gaya batik mereka. Kelompok ini memiliki sanggar yang menjadi pusat aktivitas, berlokasi di halaman rumah salah satu anggota. Selain memenuhi pesanan, Kukuh yang memang memiliki bakat menggambar sejak kecil kerap menciptakan desain orisinal yang nilainya bisa mencapai lebih dari satu juta rupiah per lembar.

Menurut Kukuh, keberlangsungan batik di Merdikorejo tidak lepas dari dukungan jejaring pembatik Sleman. Komunitas batik di seluruh Sleman aktif memberikan ruang pamer, pemasaran, dan pembinaan. Selain itu, program Sekolah Rabu di Kapanewon Tempel juga kerap menjadi sumber pesanan, terutama saat ada pertemuan dengan ibu-ibu dari seluruh Kapanewon.

Bagi Kukuh, dunia batik lebih dari sekadar pekerjaan, melainkan juga anugrah dari Allah SWT, ia bersyukur bisa ikut memperkenalkan batik kepada generasi muda.

(Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)