SLEMAN — Penguatan kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci menghadapi persoalan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks, mulai dari stunting hingga kesehatan jiwa remaja. Semangat itu mengemuka dalam Lokakarya Mini Lintas Sektoral yang digelar Puskesmas Tempel I dan Puskesmas Tempel II di Pendopo Kapanewon Tempel, Sleman pada Kamis (21/5/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan unsur pemerintah, tenaga kesehatan, aparat keamanan, hingga tokoh masyarakat untuk menyusun langkah bersama dalam meningkatkan kualitas kesehatan warga. Hadir dalam forum itu Panewu Tempel, jajaran Polsek dan Koramil Tempel, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, lurah dan kamituwa se-Kapanewon Tempel, kader kesehatan, hingga penggerak PKK dari delapan kalurahan.
Kepala Puskesmas Tempel I sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Puskesmas Tempel II, dr. Diana Kusumawati memaparkan capaian layanan kesehatan selama triwulan pertama 2026 yang secara umum telah memenuhi target.
Namun demikian, ia menegaskan masih terdapat persoalan prioritas yang memerlukan perhatian serius, terutama angka stunting anak dan kesehatan jiwa masyarakat. “Sebagian besar indikator layanan kesehatan sudah berjalan sesuai target. Tetapi stunting dan kesehatan jiwa masih menjadi tantangan besar yang harus ditangani bersama oleh seluruh unsur masyarakat,” ujar dr. Diana.
Data yang dipaparkan menunjukkan kasus stunting masih ditemukan di seluruh kalurahan di Kapanewon Tempel. Kalurahan Margorejo tercatat memiliki angka tertinggi dengan 20 anak, disusul Lumbungrejo 18 anak, Merdikorejo 14 anak, Banyurejo 13 anak, Mororejo dan Sumberejo masing-masing 12 anak, Pondokrejo 10 anak, serta Tambakrejo 8 anak.
Selain itu, isu kesehatan jiwa juga menjadi perhatian penting. Dalam forum tersebut disampaikan bahwa kasus bunuh diri di Kabupaten Sleman mencapai sembilan kasus, dengan dua kasus berasal dari wilayah Kapanewon Tempel.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Raditya Kusuma Tejamurti mengapresiasi pelaksanaan lokakarya mini lintas sektoral tersebut sebagai ruang evaluasi sekaligus penguatan koordinasi antarinstansi. Dinas Kesehatan juga mendorong agar pemaparan capaian kinerja Puskesmas Tempel I dan Tempel II dilakukan secara terpisah pada agenda mendatang agar penanganan persoalan kesehatan di masing-masing wilayah bisa lebih fokus dan terukur.
“Permasalahan yang belum terselesaikan pada periode sebelumnya harus menjadi prioritas utama dalam program berikutnya,” ujar dr. Raditya.
Sementara itu, Panewu Tempel Drs Rasyid Ratnadi Sosiawan Msi menekankan pentingnya langkah nyata dalam menekan angka stunting, dimulai dari penguatan kesehatan remaja putri dan ibu hamil.
Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan sejak sebelum kelahiran melalui pemenuhan gizi dan edukasi kesehatan keluarga. “Kalau kesehatan remaja putri dan ibu hamil diperhatikan dengan baik, maka peluang melahirkan generasi yang sehat dan bebas stunting akan semakin besar. Tahun 2026 ini kita berharap tidak ada penambahan kasus baru atau no new stunting,” tegasnya.
Di sisi lain, Kapolsek Tempel AKP Gunawan Setyabudi, S.H., M.M menyoroti pentingnya pembinaan pelajar tingkat SLTP dan SLTA sebagai langkah pencegahan kenakalan remaja dan kejahatan jalanan yang belakangan menjadi perhatian di berbagai daerah.
Hal senada disampaikan Basyori mewakili paguyuban dukuh se kapanewon Tempel yang menilai keterlibatan tenaga kesehatan, termasuk psikolog dari puskesmas, penting untuk memberikan edukasi kepada pelajar mengenai bahaya narkoba, kesehatan mental, serta risiko perilaku menyimpang di usia remaja.
Forum lintas sektoral ini menjadi gambaran bahwa persoalan kesehatan masyarakat tidak dapat diselesaikan hanya oleh sektor medis semata. Dibutuhkan sinergi pemerintah, aparat keamanan, sekolah, keluarga, dan masyarakat agar upaya membangun generasi sehat dapat berjalan berkelanjutan.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)