Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa Didorong Jadi Penguat Ketahanan Masyarakat

  • Sih Budi Daryanto
  • May 21, 2026
Budaya , Sosial Masyarakat

SLEMAN — Upaya memperkuat kembali nilai-nilai kesetiakawanan sosial di tengah perubahan sosial dan budaya masyarakat terus digelorakan melalui pendekatan berbasis kearifan lokal. Salah satunya dilakukan lewat Sarasehan Penguatan Nilai-Nilai Kesetiakawanan Melalui Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa yang digelar di Aula Kalurahan Sumberrejo, Kapanewon Tempel, Kamis (21/5/2026).

Kegiatan yang menghadirkan unsur pemerintah, akademisi, praktisi sosial, hingga tokoh masyarakat itu menjadi ruang dialog untuk membahas pentingnya budaya sebagai fondasi membangun solidaritas sosial di tengah tantangan modernisasi, individualisme, dan perubahan pola interaksi masyarakat.

Sarasehan diawali dengan penampilan kesenian campursari Pujangga Laras dari Gunungkidul yang menghadirkan nuansa budaya Jawa sebagai simbol kedekatan sosial dan ruang kebersamaan warga. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menjadi gambaran bahwa budaya tidak hanya dipandang sebagai warisan, tetapi juga sarana memperkuat kohesi sosial masyarakat.

Anggota DPRD DIY Komisi B, Basit Sugiyanto, SE, MM, dalam sambutannya menegaskan bahwa penguatan nilai sosial berbasis budaya harus menjadi bagian dari pembangunan daerah dan nasional. Menurutnya, ketahanan sosial masyarakat tidak hanya dibangun melalui infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga melalui penguatan karakter serta budaya gotong royong.

“Budaya Jawa mengandung nilai tepa selira, gotong royong, dan rasa hormat antarsesama. Nilai-nilai ini harus terus dihidupkan agar masyarakat tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya arus perubahan zaman,” ujar Basit.

Ia juga menilai forum-forum dialog budaya seperti sarasehan menjadi ruang penting untuk mempertemukan generasi tua dan muda dalam merawat nilai kebersamaan. “Kalau solidaritas sosial tetap kuat, masyarakat akan lebih siap menghadapi tantangan sosial maupun ekonomi ke depan,” tambahnya.

Perwakilan Dinas Sosial DIY, Sapto Parjono, SPd, MM menegaskan bahwa restorasi sosial tidak cukup dilakukan melalui pendekatan program semata, melainkan harus menyentuh nilai dan karakter masyarakat. Menurutnya, budaya lokal memiliki kekuatan besar untuk menumbuhkan kembali semangat gotong royong dan kepedulian sosial.

“Budaya Jawa mengajarkan harmoni, empati, dan rasa handarbeni terhadap lingkungan sosial. Nilai-nilai itu sangat relevan untuk menjawab tantangan sosial hari ini, mulai dari konflik sosial, kemiskinan, hingga melemahnya kepedulian antarwarga,” ujarnya.

Akademisi sekaligus Ketua Barahmus DIY, Dr. Drs. Hajar Pamadhi, MA (Hons), menilai penguatan budaya lokal perlu ditempatkan sebagai strategi pembangunan manusia. Ia mengatakan, masyarakat yang tercerabut dari akar budaya cenderung kehilangan orientasi sosial dan identitas kolektif.

“Restorasi sosial bukan sekadar menghidupkan tradisi, tetapi membangun kembali cara hidup yang saling menghormati, saling membantu, dan menjaga keseimbangan kehidupan bersama,” katanya.

Sementara itu, praktisi sosial Drs. Sutikan menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya. Menurutnya, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Ia menyebutkan bahwa semangat gotong royong, musyawarah, dan solidaritas sosial yang selama ini menjadi ciri masyarakat Indonesia perlu terus dirawat agar tidak tergerus budaya individualistik akibat perkembangan teknologi dan arus globalisasi.

Kegiatan ini juga mempertemukan berbagai unsur masyarakat mulai dari perangkat kalurahan, lembaga sosial, tokoh agama, tokoh perempuan, hingga pemuda. Kehadiran lintas elemen tersebut memperlihatkan bahwa penguatan kesetiakawanan sosial merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Dalam forum tersebut, para peserta sepakat bahwa pembangunan sosial yang kuat tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kualitas hubungan antarmanusia. Karena itu, budaya lokal dipandang memiliki peran strategis sebagai perekat sosial sekaligus sumber nilai dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berdaya tahan.

Melalui sarasehan ini, semangat restorasi sosial berbasis budaya diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama yang mampu memperkuat karakter bangsa di tengah dinamika zaman.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)