Menakar Kesiapan Calon Perangkat Kalurahan Merdikorejo Lewat Wawancara

  • Sih Budi Daryanto
  • Nov 26, 2025
Pemerintahan

Menakar Kesiapan Calon Perangkat Kalurahan Lewat Wawancara

 

Seleksi perangkat Kalurahan Merdikorejo memasuki tahap krusial pada Selasa (25/11/2025) ketika sesi wawancara digelar di Gedung Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerja Sama (PPKK) UGM. Para calon Kamituwa dan Dukuh Kembang yang berjumlah 19 orang satu per satu memasuki ruang wawancara, menghadapi tim seleksi yang menekankan satu aspek fundamental yaitu pemahaman mendalam mengenai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) perangkat kalurahan. Di era birokrasi modern seperti sekarang, kejelasan tupoksi menjadi ukuran utama kualitas pelayanan publik di level kalurahan.

Menurut Lurah Merdikorejo, Agus Prasetyo, wawancara bukan sekadar menilai kemampuan berbicara, melainkan menguji seberapa jauh calon perangkat memahami peran strategis yang akan mereka emban. Kalurahan sebagai unit pemerintahan terdekat dengan masyarakat membutuhkan aparatur yang tak hanya cakap administrasi, tetapi juga paham regulasi, responsif, dan mampu mengeksekusi tugas secara tepat. “Pengetahuan mengenai tupoksi adalah fondasi,” ujarnya di ruang panitia. 

Di sisi lain, transformasi digital di lingkungan kalurahan pun menjadi alasan kuat mengapa pemahaman tupoksi perlu diperkuat sejak awal. Banyak sistem kini berbasis aplikasi, mulai dari layanan surat-menyurat hingga pelaporan keuangan. 

“Tanpa pemahaman tugas yang jelas, calon akan kesulitan mengikuti alur kerja digital yang menuntut kecepatan, akurasi, dan tanggung jawab yang lebih besar,” tegas Agus.

Hal senada diutarakan Ketua Panitia Seleksi sekaligus Carik Merdikorejo, Yuni Adinurdiyanto yang menekankan bahwa perangkat kalurahan adalah garda depan dalam penyelenggaraan asistensi administrasi kependudukan. Kesalahan kecil dalam pelayanan bisa berdampak langsung pada masyarakat. Karena itu, wawancara menjadi ruang untuk menilai ketelitian dan sikap profesional calon perangkat. 

“Penguasaan tupoksi dianggap mampu meminimalkan risiko kesalahan sekaligus mempercepat proses pelayanan,” katanya.

Tak jarang, beberapa calon memberikan contoh pengalaman pribadi atau pengamatan mereka mengenai pelayanan publik di kalurahan. Dari cerita-cerita itu, terlihat bagaimana pemahaman tupoksi dapat memengaruhi kualitas kerja. Mereka yang mampu memberikan gambaran realistis dinilai memiliki potensi besar untuk beradaptasi dengan cepat setelah dilantik nanti.

Lingkungan gedung PPKK UGM yang kondusif dan disusun formal namun tetap ramah, mencerminkan harapan agar perangkat kalurahan nantinya dapat melayani warga dengan profesional sekaligus humanis. Atmosfer akademik kampus turut memperkuat nuansa bahwa seleksi ini bukan sekadar formalitas, melainkan proses pembelajaran bagi calon perangkat. Tahap wawancara ini menjadi ruang pembuktian kesiapan mental, wawasan, dan integritas calon perangkat Kalurahan Merdikorejo.

(Penulis: Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)