Menanam Harapan di Hilir Krasak: Kisah Rohmad dan Kampung Bambu Jetis

  • Sih Budi Daryanto
  • Oct 31, 2025
Features

Menanam Harapan di Hilir Krasak: Kisah Rohmad dan Kampung Bambu Jetis

Tempel – Di tepian Sungai Krasak yang mengalir tenang, seorang lelaki sederhana menanam bukan sekadar batang bambu, tetapi juga menanam harapan. Ia adalah Rohmad, warga Dusun Jetis, Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Tempel — sosok di balik lahirnya Kampung Bambu Jetis, sebuah ruang hijau tempat tumbuhnya cinta terhadap alam dan budaya lokal.

Bagi Rohmad, bambu bukan hanya tanaman yang mudah tumbuh, melainkan simbol kehidupan dan keteguhan. Dari kecintaan itulah, ia mengubah sebidang lahan di tepi sungai menjadi taman bambu yang rimbun, teduh, dan penuh makna. “Ada sekitar 30 jenis bambu yang saya tanam di sini. Selain bambu lokal seperti apus, wulung, dan petung, ada juga bambu yang berasal dari Jepang, Burma, Thailand, Tiongkok, hingga Amerika Selatan,” ujarnya dengan senyum hangat saat ditemui pada 31 Oktober 2025.

Setiap rumpun bambu di kebunnya memiliki cerita. Rohmad meneliti dan mendokumentasikan seluruh koleksinya secara ilmiah. “Setiap bambu saya lengkapi dengan katalog dan data ilmiah mulai dari nama genus, spesies, karakteristik, hingga foto batang dan irisan bilahnya. Harapannya, siapa pun yang datang bisa belajar dan mengenal bambu lebih dekat,” tuturnya.

Kampung Bambu Jetis kini tak sekadar menjadi kebun koleksi, tetapi telah berkembang menjadi laboratorium alam terbuka. Di bawah rindang daun bambu dan aliran jernih Sungai Krasak, pelajar, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum datang untuk belajar langsung tentang bambu dan manfaatnya bagi lingkungan.

Dalam perjalanannya, Rohmad tidak bekerja sendiri. Ia mendapat bimbingan teknis dari PT Bambu Nusa Verde (BNV), perusahaan bioteknologi yang berlokasi di Pakem, Sleman, dan berfokus pada pengembangan spesies bambu unggulan. Berkat kerja sama itu, ia semakin memahami teknik pembibitan, perawatan, dan klasifikasi berbagai varietas bambu dari seluruh dunia.

Rohmad mengaku tergerak membangun Kampung Bambu karena keprihatinan terhadap menurunnya minat masyarakat terhadap bambu. “Dulu bambu sangat dekat dengan kehidupan masyarakat desa. Sekarang banyak yang menganggapnya kuno. Padahal bambu punya potensi luar biasa, baik untuk lingkungan, ekonomi, maupun budaya,” ujarnya penuh keyakinan.

Kini, Kampung Bambu Jetis menjadi tempat yang bukan hanya memelihara bambu, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya harmoni antara manusia dan alam. Suara gesekan daun bambu yang berdesir dihembus angin menjadi musik alami yang mengiringi semangat pelestarian itu. “Saya ingin tempat ini terus hidup. Agar generasi muda mencintai alam, menjaga lingkungan, dan menghargai bambu sebagai bagian dari jati diri bangsa,” pungkas Rohmad dengan mata berbinar.

Dari tepian hilir Krasak, karya kecil seorang warga desa tumbuh menjadi inspirasi besar. Kampung Bambu Jetis bukan sekadar taman, tetapi simbol tentang bagaimana cinta, ketekunan, dan pengetahuan bisa berakar kuat — seperti bambu yang menancap dalam di bumi, namun tetap lentur menghadapi zaman.

(Sadhono Hadi / KIM Senyum Tempel)