Sleman – Upaya menjaga kelestarian budaya daerah terus dilakukan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan generasi muda dan masyarakat. Salah satunya melalui Pelatihan MC Bahasa Jawa yang diselenggarakan Pemerintah Kalurahan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada 10–11 Juli 2026 di ruang pertemuan kalurahan setempat.
Kegiatan yang menjadi bagian dari pembinaan grup kesenian dan kebudayaan tingkat desa tersebut diikuti oleh unsur pamong kalurahan dan pemuda Karang Taruna. Suasana pelatihan terasa berbeda dan menarik karena seluruh peserta hadir mengenakan pakaian adat Jawa gaya Yogyakarta, sehingga nuansa budaya tidak hanya dipelajari secara teori tetapi juga dipraktikkan secara langsung.
Lurah Merdikorejo, Agus Prasetyo, A.Md., dalam sambutannya menegaskan bahwa pelestarian budaya memerlukan keterlibatan aktif masyarakat, terutama generasi muda, agar nilai-nilai luhur warisan leluhur tidak tergerus perkembangan zaman.
"Budaya Jawa merupakan identitas yang harus dijaga bersama. Kami berharap pelatihan ini mampu menumbuhkan rasa bangga sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menggunakan bahasa dan tata budaya Jawa pada berbagai kegiatan kemasyarakatan," ujarnya.
Materi mengenai dasar-dasar kepanatacaraan dan sesorah disampaikan oleh Bardono, pengurus Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) Kabupaten Sleman. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa seorang panatacara tidak hanya dituntut memiliki kemampuan berbicara yang baik, tetapi juga memahami tata bahasa, unggah-ungguh, serta etika dalam membawakan acara sesuai dengan tradisi Jawa.
"Panatacara adalah wajah sebuah acara. Kemampuan berbicara yang baik harus diiringi dengan pemahaman terhadap tata krama dan nilai budaya agar pesan yang disampaikan memiliki makna dan kehormatan," kata Bardono.
Sementara itu, Sugiman Dwi Nurseto, seniman dan praktisi budaya Kabupaten Sleman, menyampaikan materi mengenai tembang dan gending Jawa sebagai bagian penting dalam berbagai prosesi adat maupun kegiatan budaya masyarakat Jawa.
Menurut Sugiman, tembang dan gending bukan sekadar hiburan, melainkan sarana untuk menyampaikan pesan moral, tuntunan hidup, dan nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan secara turun-temurun.
"Tembang dan gending Jawa menyimpan filosofi kehidupan yang sangat dalam. Memahami dan melestarikannya berarti menjaga ingatan kolektif serta identitas budaya bangsa," ungkapnya.
Pelatihan ini menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan pendekatan yang adaptif dan partisipatif. Dengan melibatkan aparatur kalurahan dan generasi muda dalam suasana yang sarat nilai tradisi, kegiatan semacam ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader pelestari budaya yang siap menjaga keberlanjutan warisan budaya Indonesia di masa depan.(SBD)