Penguatan Keluarga Penyandang Disabilitas, Kunci Membangun Ketahanan Sosial
Sleman — Upaya memperkuat peran keluarga sebagai garda terdepan dalam pendampingan penyandang disabilitas terus didorong pemerintah. Hal ini tercermin dalam kegiatan pembinaan keluarga yang digelar Dinas Sosial Kabupaten Sleman di Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Selasa (5/5/2026), dengan melibatkan sekitar 40 peserta dari unsur keluarga dan pendamping.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang menyoroti pendekatan komprehensif dalam pendampingan disabilitas, mulai dari deteksi dan intervensi dini perkembangan anak hingga penguatan aspek psikologis keluarga.
Psikolog Rini Indriani menekankan bahwa keluarga memegang peran sentral dalam menjaga harapan dan kesehatan mental. “Keluarga bukan hanya tempat kembali, tetapi juga sumber kekuatan utama bagi penyandang disabilitas. Ketika keluarga mampu memahami dinamika psikologis yang terjadi, maka proses pendampingan akan lebih efektif dan penuh empati,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi keluarga sering kali bukan hanya aspek fisik atau medis, tetapi juga tekanan emosional dan sosial. Oleh karena itu, dukungan lingkungan dan keterbukaan komunikasi menjadi faktor penting. “Merawat harapan itu bukan hal instan, tetapi proses panjang yang membutuhkan penerimaan, dukungan sosial, dan konsistensi,” katanya.
Sementara itu, Marjiyo dari Dinas Sosial Sleman mengangkat pentingnya deteksi dan intervensi dini dalam perkembangan anak. Menurutnya, semakin cepat orang tua memahami tahapan tumbuh kembang anak, semakin besar peluang untuk memberikan stimulasi yang tepat. “Orang tua perlu dibekali pengetahuan dasar agar tidak terlambat dalam mengenali tanda-tanda keterlambatan perkembangan. Intervensi dini bisa sangat menentukan kualitas hidup anak di masa depan,” jelasnya.
Kegiatan ini juga dihadiri Lurah Margorejo, Abdul Aziz Muh Ridwan, yang menyampaikan apresiasinya terhadap program pembinaan tersebut. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memperkuat jejaring sosial antar keluarga. “Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, karena dampaknya sangat nyata dalam meningkatkan kepedulian dan kapasitas masyarakat,” ujarnya.
Pendamping kegiatan dari TKSK Kapanewon Tempel, M. Arif Yasfani, menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah, tenaga profesional, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program. “Pendampingan tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi agar keluarga tidak merasa sendiri dalam menghadapi tantangan,” katanya.
Secara lebih luas, kegiatan ini mencerminkan arah kebijakan pembangunan sosial yang menempatkan keluarga sebagai pusat intervensi. Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan berbasis komunitas, diharapkan penyandang disabilitas dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial.
Program semacam ini menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya berbicara soal infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana negara hadir dalam memperkuat ketahanan keluarga—terutama bagi mereka yang membutuhkan perhatian lebih. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)