Perkuat Kapasitas Pribadi, PKK Margorejo Gelar ‘Diskusi Santuy’ Bersama Zen Risna

  • Sih Budi Daryanto
  • May 04, 2026
Sosial Masyarakat

Perkuat Kapasitas Pribadi, PKK Margorejo Gelar ‘Diskusi Santuy’ Bersama Zen Risna

SLEMAN – Kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, menggelar kegiatan pengembangan kapasitas bertajuk "Penguatan Pribadi Menghadapi Masa Kini". Acara yang dikemas dalam bentuk Private Class dan diskusi santai ini menghadirkan fasilitator ahli, Zen Risna, seorang profesional public speaker dan Direktur Komunikasi IMA Sleman.

Kegiatan yang berlangsung di ruang pertemuan Kalurahan Margorejo pada Sabtu (2/5/2026) ini bertujuan untuk membekali para kader PKK agar lebih percaya diri dalam menjalankan tugas lapangan.

Kehadiran Kamituwa Margorejo Anwar Ihsani,SE dalam acara ini menunjukkan komitmen Pemerintah Kalurahan Margorejo dalam mendukung pemberdayaan perempuan melalui pos-pos anggaran pengembangan SDM.

Ketua TP PKK Margorejo Maryana Abdul Aziz dalam sambutannya berharap pelatihan ini dapat membuat kader lebih inovatif dalam menggerakkan 10 Program Pokok PKK.

Dalam sesi tersebut, Zen Risna menekankan bahwa nilai seseorang (personal value) tidak hanya ditentukan oleh hasil kerja pribadi, melainkan oleh kemampuan membangun kolaborasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Fokus utama materi kali ini adalah pentingnya komunikasi efektif sebagai pondasi kapasitas diri. Zen membedah lima komponen penting dalam keterampilan komunikasi kepemimpinan:

Kemampuan mendengar aktif,Memberikan apresiasi (memuji),Delegasi tugas dengan jelas,Pengelolaan rapat yang efektif,Penerapan komunikasi verbal dan non-verbal yang positif.

"Niat itu penting, tapi niat saja tidak cukup. Semua harus dijalankan, bukan hanya diniati," ujar Zen dalam presentasinya, menekankan pentingnya aksi nyata di atas sekadar rencana.

Peserta diajak untuk mengenali empat tipe komunikasi: Agresif (kasar), Pasif (menghindar), Pasif-Agresif (menyindir), dan Asertif. Komunikasi asertif sangat disarankan karena mampu menyampaikan perasaan dengan lembut namun tetap fokus pada inti masalah.

Selain itu, etika dalam media sosial turut menjadi sorotan. Mengingat sifat komunikasi digital yang "meninggalkan jejak", peserta diingatkan untuk selalu bijak sebelum mengunggah sesuatu dan menghindari penggunaan kata-kata kasar atau yang mengandung unsur SARA.

Menariknya, kegiatan ini juga menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal Jawa sebagai pedoman bersosialisasi. Beberapa pesan moral yang disampaikan antara lain:

"Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka"* (Jangan merasa paling pandai agar tidak tersesat, jangan curang agar tidak celaka). Penerapan kata-kata sopan seperti "Nuwun sewu", "Nderek langkung", dan "Mangga". Prinsip hidup "Sepi ing hape, rame ing gawe" yang bermakna mengurangi aktivitas di gawai dan memperbanyak hasil kerja nyata.

Zen juga memperingatkan peserta untuk waspada terhadap ciri-ciri teman toxic, seperti mereka yang hobi mengkritik tanpa mau dikritik atau hanya datang saat butuh bantuan. Sebagai solusinya, ia menyarankan prinsip "Less is More": sedikit membantah, banyak mendengar, dan fokus pada solusi.

Acara ditutup dengan pengingat tentang penggunaan empat "kata ajaib" dalam setiap pelayanan dan interaksi sosial: Maaf, Silakan, Tolong, dan Terima Kasih.

Melalui kegiatan ini, diharapkan anggota PKK Margorejo dapat menjadi representasi pribadi dan instansi yang ramah, tegas, serta profesional dalam melayani masyarakat.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)