RAT Koperasi Desa Merah Putih Margorejo Tegaskan Peran Koperasi Desa sebagai Motor Ekonomi Kerakyatan

  • Sih Budi Daryanto
  • Feb 11, 2026
Ekonomi , Sosial Masyarakat

RAT Koperasi Desa Merah Putih Margorejo Tegaskan Peran Koperasi Desa sebagai Motor Ekonomi Kerakyatan

SLEMAN — Upaya penguatan ekonomi berbasis komunitas kembali ditegaskan melalui pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 Koperasi Desa Merah Putih Kalurahan Margorejo, yang digelar pada Selasa (11/2/2026). 

Forum tertinggi dalam struktur koperasi ini menjadi momentum evaluasi kinerja sekaligus penegasan arah strategis pengembangan koperasi desa sebagai pilar ekonomi rakyat.

Rapat yang dipimpin Ketua Sidang H Edy Triyanto dan didampingi Sekretaris RAT Endah Dwi Astuti,SIP berlangsung dengan suasana partisipatif. 

Para anggota aktif menyampaikan pandangan, masukan, serta evaluasi terhadap laporan pertanggungjawaban pengurus dan rencana kerja ke depan. Prinsip demokrasi ekonomi yang menjadi ruh koperasi tampak nyata melalui proses musyawarah terbuka tersebut.

Dalam sambutannya, Lurah Margorejo Abdul Azis Muh Ridwan, SH menegaskan pentingnya tata kelola koperasi yang amanah, transparan, dan berdampak luas. Ia mengingatkan bahwa koperasi desa memiliki tanggung jawab moral karena sumber pendiriannya berkaitan dengan dukungan dana publik.“Koperasi Merah Putih ini berasal dari dana desa, maka harus benar-benar bermanfaat bagi seluruh anggota dan masyarakat Kalurahan Margorejo,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa koperasi desa bukan sekadar lembaga usaha, melainkan instrumen pemberdayaan sosial ekonomi yang harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, mulai dari akses permodalan, penguatan UMKM, hingga stabilisasi ekonomi keluarga.

Hadir sebagai narasumber, Walyana, S.Pd dari Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman menyoroti posisi strategis koperasi desa dalam ekosistem ekonomi nasional. Menurutnya, penguatan koperasi di tingkat desa merupakan bagian dari strategi pembangunan inklusif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan objek pembangunan.

Ia menekankan bahwa koperasi modern harus adaptif terhadap perubahan zaman, termasuk memanfaatkan digitalisasi, meningkatkan kapasitas manajemen, serta membangun jejaring usaha yang lebih luas. “Koperasi yang sehat bukan hanya tertib administrasi, tetapi juga memiliki visi usaha yang berkelanjutan dan mampu bersaing,” jelasnya di hadapan peserta RAT.

Pelaksanaan RAT Tahun Buku 2025 ini juga menandai konsolidasi kelembagaan Koperasi Desa Merah Putih yang telah mengantongi legalitas resmi melalui Surat Keputusan AHU Nomor AHU-0039583.AH.01.29 Tahun 2025. Legalitas tersebut menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kepercayaan anggota sekaligus membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun sektor swasta.

Secara nasional, keberadaan koperasi desa semakin dipandang strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi akar rumput. Pemerintah terus mendorong revitalisasi koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional, sejalan dengan amanat konstitusi yang menempatkan usaha bersama berdasar asas kekeluargaan sebagai landasan sistem ekonomi Indonesia.

Forum RAT di Margorejo mencerminkan praktik baik tata kelola koperasi yang akuntabel dan partisipatif. Tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, rapat anggota juga berfungsi sebagai ruang pendidikan demokrasi ekonomi bagi masyarakat. Di sinilah anggota belajar memahami laporan keuangan, menilai kinerja pengurus, serta menentukan arah kebijakan organisasi secara kolektif.

Semangat kebersamaan yang terlihat sepanjang kegiatan menjadi sinyal optimisme bahwa koperasi desa mampu menjadi lokomotif kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan pengelolaan profesional dan dukungan anggota, koperasi di tingkat lokal berpotensi berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang berdampak regional bahkan nasional.

Melalui RAT ini, Koperasi Desa Merah Putih Margorejo menegaskan komitmennya untuk terus bertumbuh, meningkatkan pelayanan kepada anggota, dan memperluas manfaat bagi masyarakat. Langkah kecil dari desa tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana ekonomi gotong royong tetap relevan dan justru semakin dibutuhkan di tengah dinamika ekonomi modern. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)