Rembuk Stunting Tekankan Bahaya Lingkungan Perokok, PLKB Ajak Warga Bangun Gerakan Berhenti Merokok
Sleman - Persoalan stunting tidak hanya dipengaruhi faktor gizi, tetapi juga kondisi lingkungan keluarga yang kurang sehat. Salah satu faktor yang kini menjadi perhatian serius dalam penanganan stunting adalah tingginya paparan asap rokok di lingkungan rumah tangga.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan rembuk stunting Kalurahan Margorejo Tempel yang digelar Kamis (7/5/2026) di ruang pertemuan Kalurahan Margorejo. Forum yang dihadiri unsur pemerintah kalurahan, tenaga kesehatan, kader, hingga masyarakat itu menjadi ruang bersama untuk memperkuat langkah pencegahan stunting secara menyeluruh.
Dalam sambutannya, Lurah Margorejo Abdul Aziz Muh Ridwan SH menekankan pentingnya sinkronisasi data stunting agar program penanganan yang dijalankan pemerintah benar-benar tepat sasaran. Menurutnya, kesamaan data antar lembaga dan unsur pelaksana menjadi fondasi penting dalam menentukan langkah intervensi di lapangan.
“Sinkronisasi data stunting harus diperkuat supaya program yang dijalankan bisa tepat sasaran dan tidak terjadi perbedaan data yang terlalu jauh. Penanganan stunting membutuhkan kerja sama semua pihak,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa upaya penanganan stunting tidak cukup hanya melalui bantuan atau program sesaat, tetapi memerlukan komitmen jangka panjang dari seluruh elemen masyarakat.
Dalam sesi materi, Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB) Kapanewon Tempel Drs Edi Santosa menyoroti masih tingginya kebiasaan merokok di lingkungan keluarga yang berdampak terhadap kesehatan ibu dan anak. “Lingkungan perokok menjadi salah satu faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap stunting. Anak-anak yang setiap hari terpapar asap rokok tentu lebih rentan mengalami gangguan kesehatan dan tumbuh kembang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada ibu hamil dan balita. Karena itu, masyarakat didorong mulai membangun gerakan Usaha Berhenti Merokok (UBM) sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan keluarga yang lebih sehat.“Kalau ingin menurunkan stunting, pola hidup keluarga juga harus berubah. Salah satunya dengan mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan merokok di rumah,” katanya.
Sementara itu, Pendamping Desa Ariyanto Wibowo menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan rembuk stunting yang dinilai menjadi yang pertama digelar di wilayah Kapanewon Tempel. “Kami mengapresiasi karena kegiatan ini menjadi yang pertama di Kapanewon Tempel. Ini langkah baik untuk menyatukan persepsi dan sinkronisasi data supaya angka stunting yang muncul tidak berbeda jauh,” katanya.
Menurut Ariyanto, rembuk stunting bukan sekadar forum diskusi, tetapi juga menjadi bagian penting dari evaluasi dan pelaporan kondisi stunting selama 2025–2026 sekaligus penyusunan arah program pembangunan ke depan. “Rembuk stunting ini menjadi forum pelaporan perkembangan selama tahun 2025–2026 dan hasilnya nanti menjadi bahan dalam menyusun program di RKP Kalurahan,” tambahnya.
Kegiatan rembuk stunting tersebut turut dihadiri kepala Puskesmas Tempel I, kepala balai KB, ketua PKK, para dukuh, kader kesehatan, bidan desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta kader pembangunan manusia (KPM). Melalui forum seperti ini, pemerintah dan masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa penanganan stunting memerlukan pendekatan menyeluruh, mulai dari perbaikan gizi, lingkungan sehat, hingga penguatan sinergi data dan program pembangunan di tingkat desa.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)