RT–RW sebagai Garda Terdepan Pemerintahan Desa: Lumbungrejo Gelar Pembinaan dan Apresiasi Insentif di Bulan Ramadan
SLEMAN — Pemerintahan tingkat desa terus memperkuat peran kepemimpinan masyarakat dari level paling dekat dengan warga. Di tengah momentum Ramadan, Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman menggelar kegiatan pembinaan serta penyerahan insentif bagi para Ketua RT dan RW sebagai bentuk apresiasi atas peran mereka dalam menjaga dinamika sosial di lingkungan masyarakat.
Kegiatan yang digelar di GOR Kalurahan Lumbungrejo pada Rabu (11/3/2026) tersebut dihadiri oleh sekitar 117 peserta, terdiri dari 56 Ketua RT dan 25 Ketua RW, serta unsur pamong kalurahan, staf pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), dan tokoh masyarakat.
Acara ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan kapasitas bagi para pemimpin lingkungan yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan sosial kemasyarakatan.
Jogoboyo Lumbungrejo, Nugroho Subagyo, yang menyampaikan pengantar kegiatan menjelaskan bahwa pembinaan rutin bagi RT dan RW merupakan bagian dari upaya memperkuat tata kelola pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat. “RT dan RW memiliki peran strategis sebagai penghubung antara masyarakat dengan pemerintah kalurahan. Melalui forum seperti ini, kita ingin memastikan koordinasi berjalan baik sekaligus memberikan dukungan kepada mereka yang selama ini bekerja langsung di tengah masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo juga menyerahkan insentif bagi para Ketua RT dan RW yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kalurahan (APBKal). Selain itu, pemerintah kalurahan juga memberikan fasilitasi jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan sebagai bentuk perlindungan sosial bagi para pengurus lingkungan.
Lurah Lumbungrejo, M. Misbah Al Hakim, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas dedikasi para Ketua RT dan RW yang selama ini aktif mendukung berbagai program pembangunan dan pelayanan masyarakat. “Kami menyampaikan terima kasih atas partisipasi dan kerja keras para Ketua RT dan RW yang selama ini menjadi mitra pemerintah kalurahan dalam menjalankan berbagai program. Tanpa dukungan dari panjenengan semua, banyak program pelayanan masyarakat tidak akan berjalan dengan baik,” kata Misbah.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena insentif yang diberikan tahun ini masih belum dapat meningkat secara signifikan. “Kami menyadari insentif yang diberikan masih sama seperti tahun sebelumnya. Namun ini adalah bentuk komitmen pemerintah kalurahan untuk tetap memberikan penghargaan atas pengabdian panjenengan semua,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Lurah Lumbungrejo juga mengingatkan bahwa pada September 2026 mendatang akan dilaksanakan pengukuhan Ketua RT dan RW periode 2026–2031. Menurutnya, proses pemilihan dapat dilakukan secara demokratis sesuai kesepakatan warga.
“Pemilihan Ketua RT dapat dilakukan melalui musyawarah mufakat ataupun melalui pemilihan langsung oleh warga. Yang terpenting adalah tetap menjaga kebersamaan dan semangat gotong royong di lingkungan masing-masing,” jelasnya.
Menjelang waktu berbuka puasa, acara dilanjutkan dengan tausiyah Ramadan yang disampaikan oleh Agus Faturohman. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa bulan Ramadan memiliki keistimewaan besar dalam sejarah Islam. Ia menjelaskan bahwa terdapat dua peristiwa penting yang menjadi keutamaan Ramadan, yakni turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) dan malam Lailatul Qadar.
“Wahyu pertama yang turun adalah Surat Al-Alaq yang dimulai dengan perintah Iqra’ atau membaca. Bagi para pemimpin masyarakat seperti Ketua RT dan RW, pesan ini sangat relevan: membaca tidak hanya teks, tetapi juga membaca situasi sosial di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan memahami kondisi warga menjadi kunci bagi pemimpin lingkungan dalam menjaga keharmonisan masyarakat. “Ketua RT dan RW adalah pemimpin terdekat dengan masyarakat. Maka kemampuan membaca persoalan, memahami kebutuhan warga, dan menjaga kebersamaan menjadi hal yang sangat penting,” tambahnya.
Kegiatan yang ditutup dengan buka puasa bersama tersebut mencerminkan pentingnya memperkuat kepemimpinan dari tingkat akar rumput. Di banyak daerah di Indonesia, RT dan RW bukan sekadar struktur administratif, melainkan juga motor penggerak solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Dengan dukungan pembinaan yang berkelanjutan, pemerintah desa berharap para Ketua RT dan RW dapat terus menjadi penggerak gotong royong, menjaga ketertiban lingkungan, serta menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah.
Di tengah perubahan sosial yang semakin dinamis, kepemimpinan lokal seperti RT dan RW tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat Indonesia.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)