Sedekah Ramadan dari Desa untuk Negeri: Masjid Al Huda Bagikan Sayuran Segar hingga Hadiah Tarawih

  • Sih Budi Daryanto
  • Mar 04, 2026
Sosial Masyarakat , Keagamaan

Sedekah Ramadan dari Desa untuk Negeri: Masjid Al Huda Bagikan Sayuran Segar hingga Hadiah Tarawih

SLEMAN – Ramadan selalu menghadirkan wajah Islam yang hangat dan membumi. Di tengah dinamika kehidupan modern, tradisi berbagi justru menemukan relevansinya. Hal itu tercermin dari inisiatif Takmir Masjid Al Huda Soko Tegal yang menggelar program “Ramadan Ceria” pada Ramadan 1447 H/2026 M.

Bukan sekadar pembagian takjil atau santunan, masjid yang berada di wilayah Soka Tegal Merdikorejo Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman ini menghadirkan gerakan sedekah sayur terbuka untuk masyarakat umum. Setiap hari, aneka sayuran segar, buah, hingga bumbu dapur disediakan gratis di sebuah gerobak angkringan yang ditempatkan di halaman masjid.

“Pada bulan Ramadan 2026 ini, takmir mempersembahkan Program Ramadan Ceria berupa sedekah sayur untuk umum. Sudah kami mulai satu minggu setelah puasa berjalan,” ujar Bendahara Takmir, Hery Wibowo, Selasa (3/3/2026).

Menurut Hery, puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan memperkuat empati sosial. Ia menilai, sedekah dalam bentuk bahan pangan segar justru sangat kontekstual dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Monggo, siapa pun yang membutuhkan sayur, buah, dan bumbu dapur, silakan mengambil secara gratis. Tersedia setiap hari. Ini terbuka untuk umum,” tuturnya.

Program ini lahir dari semangat gotong royong warga. Sebagian besar sayuran dan buah merupakan hasil kebun masyarakat sekitar yang disumbangkan secara sukarela. Takmir hanya menambah kekurangan kebutuhan dengan dana kas masjid.

“Pendanaan dari takmir sejauh ini baru sekitar Rp200 ribu. Selebihnya dari warga dan jamaah. Kami ingin memberi pencerahan bahwa sedekah tidak harus berbentuk uang. Hasil kebun pun bisa menjadi amal jariyah,” kata Hery.

Konsep ini dinilai sederhana namun berdampak luas. Selain membantu warga yang membutuhkan, program tersebut juga memperkuat solidaritas sosial dan rasa memiliki terhadap masjid sebagai pusat aktivitas umat.

Di tengah isu ketahanan pangan dan kenaikan harga bahan pokok di berbagai daerah, model sedekah berbasis hasil tani lokal ini menjadi contoh praktik ekonomi berbagi yang aplikatif dan mudah direplikasi.

Tak hanya fokus pada sedekah pangan, Ramadan Ceria juga menyasar penguatan pendidikan keagamaan anak-anak dan remaja. Takmir mengaktifkan kembali Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dengan menggandeng karang taruna setempat.

Pada Senin hingga Kamis, kegiatan difokuskan pada pembelajaran mengaji. Sementara Jumat hingga Minggu diisi dengan aktivitas kreatif seperti menggambar, mewarnai, kuis Islami, nonton bareng film bernuansa religi, hingga kerajinan tangan. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan buka bersama.

“Kegiatan TPA bersama rekan-rekan karang taruna Alhamdulillah berjalan baik. Masjid juga menyediakan hadiah menarik agar anak-anak semakin semangat,” ujarnya.

Selain itu, shalat tarawih pun dikemas dengan pendekatan kreatif. Jamaah berkesempatan mendapatkan sembako hingga hadiah utama di akhir Ramadan sebagai bentuk apresiasi atas kehadiran dan konsistensi beribadah.

Di tengah arus urbanisasi dan individualisme, gerakan seperti yang dilakukan Takmir Masjid Al Huda menunjukkan bahwa transformasi sosial bisa dimulai dari lingkup terkecil: masjid dan komunitasnya.

Program Ramadan Ceria bukan hanya peristiwa lokal, melainkan cermin semangat kolektif umat Islam Indonesia dalam memaknai Ramadan sebagai bulan penguatan solidaritas, pendidikan, dan kepedulian.

Jika direplikasi secara luas, gerakan sederhana seperti sedekah sayur dan penguatan TPA berbasis kolaborasi pemuda berpotensi menjadi model pemberdayaan sosial berbasis masjid yang relevan bagi berbagai daerah di Tanah Air.

Ramadan, pada akhirnya, bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi tentang bagaimana nilai-nilainya tumbuh menjadi gerakan sosial yang nyata dan berdampak.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)