Sekolah Keterampilan Pokja 2 Margorejo: Mengasah Kreativitas, Menggerakkan Ekonomi Keluarga
Sleman - Upaya pemberdayaan perempuan berbasis keterampilan kembali mendapat ruang melalui kegiatan Sekolah Keterampilan yang digelar PKK Pokja 2 Kalurahan Margorejo, Tempel, Sleman, Rabu (28/1/2026). Kegiatan ini mengangkat tema fesyen menjelang Lebaran, sebuah momentum ekonomi yang dinilai strategis untuk mendorong kemandirian keluarga melalui kreativitas busana.
Bertempat di ruang pertemuan kalurahan, pelatihan ini merupakan kolaborasi lembaga Elzatta dari Magelang dan Tata Busana dari SMK Muh 1 Tempel serta Tata Rias Margorejo, menghadirkan narasumber dari Elzatta, Gilang Diky serta tutorial hijab oleh Putri Yuliana. Keduanya membagikan wawasan seputar tren fesyen muslim, teknik dasar produksi, hingga peluang usaha rumahan yang relevan dengan kebutuhan pasar nasional.
Ketua Pokja 2 PKK Margorejo, Enjang Dwi Retnoningsih dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi bagian dari gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan. “Kami ingin ibu-ibu tidak hanya menjadi konsumen tren, tetapi juga pelaku usaha. Menjelang Lebaran, kebutuhan busana meningkat. Ini peluang nyata jika dikelola dengan keterampilan dan kepercayaan diri,” ujarnya.
Putri Yuliana sebelum memberikan tutorial tentang penggunaan hijab menyoroti perubahan perilaku pasar fesyen muslim yang semakin dinamis. Menurutnya, konsumen kini tidak hanya mencari model yang modis, tetapi juga kenyamanan bahan dan identitas gaya. “Fesyen muslim sekarang bergerak ke arah yang lebih personal. Ibu-ibu bisa mulai dari desain sederhana, yang penting rapi, nyaman dipakai, dan punya ciri khas. Pasarnya luas, apalagi dengan dukungan penjualan daring,” jelasnya.
Sementara itu, Gilang menekankan pentingnya konsistensi kualitas bagi pelaku usaha pemula. Ia berbagi pengalaman membangun usaha dari skala kecil hingga mampu menjangkau pasar lebih luas. “Kunci bertahan di usaha fesyen itu telaten dan mau belajar. Jangan takut mulai dari rumah. Lebaran selalu jadi momentum lonjakan permintaan, tapi kualitas jahitan dan ketepatan waktu tetap nomor satu,” katanya.
Peserta tampak antusias mengikuti sesi praktik dan diskusi. Mereka tidak hanya belajar soal model busana, tetapi juga pengemasan produk dan strategi pemasaran sederhana melalui media sosial. Pendekatan ini dinilai relevan dengan kondisi banyak keluarga yang mulai merintis usaha rumahan pascapandemi.
Kegiatan seperti ini mencerminkan peran PKK yang terus bertransformasi, dari gerakan sosial menjadi motor penguatan ekonomi keluarga. Dengan membekali perempuan keterampilan aplikatif dan pemahaman pasar, pelatihan fesyen menjelang Lebaran ini diharapkan tak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berlanjut menjadi usaha nyata yang menopang kesejahteraan rumah tangga.
Lebih jauh, model pelatihan kolaboratif antara komunitas lokal dan pelaku industri kreatif seperti ini menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi berbasis keluarga dapat tumbuh dari tingkat akar rumput, namun berdampak luas. Dari ruang pertemuan desa, semangat wirausaha perempuan perlahan dirajut, sejalan dengan denyut industri fesyen nasional yang terus berkembang. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)