Susilo, Menenun Asa Lewat Anyaman

  • Sih Budi Daryanto
  • Nov 10, 2025
Features

Susilo, Menenun Asa Lewat Anyaman

Di ujung Dusun Kemusuh, Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, ada suara lembut gesekan rotan yang berpadu dengan tawa para murid. Di sebuah bangunan sederhana, tangan-tangan sibuk bergerak, menenun rotan dan bambu menjadi bentuk yang bermakna. Dari tempat itulah lahir karya-karya indah dan kisah perjuangan seorang lelaki yang menyalakan harapan melalui keterampilan tradisional.

Namanya Susilo Joko Pramono, pendiri Sekolah Nonformal Abadira. Lelaki berusia pertengahan empat puluhan itu bukan berasal dari dunia kriya, melainkan lulusan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun panggilan hatinya membawanya pada jalan berbeda — jalan yang ia yakini sebagai bentuk nyata melestarikan budaya dan menebar kemandirian ekonomi di tengah masyarakat.

“Keterampilan menganyam bila ditekuni dengan sungguh-sungguh, selain melestarikan budaya juga menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi,” ucapnya pelan, sambil terus menata rotan di tangannya saat ditemui penulis pada Minggu (9/11/2025)

Abadira bukan sekolah dalam arti formal. Tak ada seragam, tak ada ijazah, tak ada batas usia. Yang ada hanyalah niat untuk belajar. Di ruang kecil itu, anak-anak duduk sejajar dengan para ibu rumah tangga dan lansia, semua fokus memintal bambu dan rotan.

“Yang kami ajarkan bukan hanya teknik menganyam,” ujar Susilo. “Lebih dari itu, kami menanamkan rasa percaya diri bahwa dari tangan sendiri pun seseorang bisa berdiri tegak.”

Dari hasil bimbingannya lahir berbagai produk kreatif: tas, topi, perabot, hingga hiasan rumah. Sebagian dijual untuk menambah penghasilan, sebagian lagi menjadi karya pameran yang membanggakan. Setiap anyaman adalah cerita tentang kesabaran, ketekunan, dan cinta terhadap warisan budaya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Susilo melihat peluang sekaligus tantangan. Dunia kini tengah mencari kembali harmoni dengan alam. Tren gaya hidup alami dan ramah lingkungan membuka peluang besar bagi produk berbahan rotan dan bambu.

“Meubilair tradisional rotan masih disukai, baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” katanya yakin. “Dan itu artinya, kita butuh banyak tenaga terlatih yang bisa merawat dan melanjutkan keterampilan ini.”

Semangatnya tak berhenti di ruang kelas. Ia sering membawa keterampilan anyam ke luar dinding Abadira — tampil di pameran, menjadi pembicara di kampus, hingga menggelar demonstrasi menganyam di sepanjang Jalan Malioboro. Di tengah hiruk-pikuk wisatawan, ia menganyam dengan tenang, menarik perhatian anak muda untuk berhenti sejenak dan bertanya: “Apa yang sedang Bapak buat?”

Dari pertanyaan sederhana itu, percakapan tentang budaya dimulai.

Susilo percaya bahwa keterampilan tradisional bukan sekadar warisan, tetapi bekal hidup. Di Abadira, ia menanamkan nilai-nilai kerja keras, ketelitian, dan kebersamaan. Ia ingin para muridnya tak hanya mahir menganyam, tetapi juga mampu berdiri di atas kaki sendiri.

“Kami ingin mencetak pribadi yang terampil dan percaya diri lewat keterampilan tradisional. Karena di setiap anyaman, ada harapan yang sedang disusun,” tuturnya sambil tersenyum.

Kini, dari sudut kecil di Banyurejo, asa itu tumbuh. Dari helai-helai rotan yang saling berjalin, lahir generasi baru pengrajin yang menenun kehidupan dengan penuh makna — meneguhkan bahwa budaya bukan sekadar kenangan, melainkan jalan menuju masa depan yang lestari dan mandiri.

(Penulis: Sadhono Hadi Kim Senyum Tempel)